Semangat 66 Muncul Lagi

09:57, 29/11/2009

Prof H Usman Pelly MA Ketua Yayasan UISU

Nama Usman Pelly tidak asing lagi di telinga  khususnya kalangan dunia pendidikan Sumatera Utara. Di usianya yang ke-71, Usman terlihat tegar. Bahkan aktivitasnya di dunia pendidikan khususnya pendidikan tinggi tidak pernah absen.

Meskipun antopolog ini sudah pensiun sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Universitas Negeri Medan (Unimed), namun dia tetap mengajar dan bahkan sejak 3 tahun lalu Usman Pelly dipercayakan sebagai Ketua Yayasan Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) sampai sekarang.

Di tengah gejolak perebutan tampuk kekuasaan di tingkat yayasan  UISU, namun Usman tetap tegar menjalaninya bahkan dia mengaku siap mati demi mempertahankan aset umat Islam itu. Usman mengaku saat bentrok fisik dengan pihak kontra perebutan Yayasan UISU tahun 2005 lalu, dia tetap semangat dan merasa tertantang. Bahkan kakek 10 cucu ini merasa semangatnya melawan Partai Komunis Indonesia (PKI) beberapa tahun lalu muncul kembali saat gejolak UISU terjadi.

Berikut petikan wawancara wartawan koran ini Adi Candra Sirait, dengan Usman Pelly di rumahnya Kompek Griya Unimed Jalan Pelajar Ujung Medan, Kamis (26/11).

Apa kabar sehat Pak. Apa kegiatan saat ini?
Alhamdulillah saya sehat. Saat ini saya masih aktif sebagai Ketua Yayasan UISU. Bahkan, tadi saya baru pulang dari kantor Kordinator Perguruan Tinggi Swasta Sumatera Utara (Kopertis) di Tanjungsari Medan. Saya ke sana urusan kampus, karena kepengurusan yayasannya UISU dibalikkan kepada kami berdasarkan hasil rapat musyawarah pimpinan daerah (muspida) plus di Kantor Gubsu, Rabu (25/11). Selain itu, saat ini saya juga masih aktif sebagai staf pengajar S-2 di Unimed dan program dokter di Unimed kerjasama pemerintah Malaysia. Di S-2 saya mengajarkan tiga mata kuliah, sedangkan di program dokter hanya satu mata kuliah. Selain itu, saat ini saya juga aktif sebagai dosen pembimbing mahasiswa dan pembicara dalam seminar di Sumatera Utara, Indonesia dan bahkan luar negeri.

Sudah tua seperti ini, apa bapak tidak memilih pensiun di rumah. Apa motivasinya pak sehingga bapak terus saja mengajar?   
Saya sadar dengan usia saya yang menginjak 71 tahun, keterbatasan saya terutama di bidang fisik tentu melemah.  Namun saya punya prinsip sisa-sisa usia yang diberikan tuhan kepada saya ini akan saya manfaatkan untuk kepentingan umat. Bukankah dalam ajaran Islam disebutkan bahwa sebaik-baiknya umat Islam yang hidup di muka bumi ini adalah orang yang bermanfaat bagi semua umat. Makanya saya senantiasa mengabdi menjadi dosen. Selain itu saya juga merasa  pengetahuan dan ilmu yang saya miliki saat ini sangat dibutuhkan orang lain. Buktinya saya selalu diminta orang lain untuk mengajar di kampus baik di UISU dan Unimed. Khusus di UISU setelah 12 tahun duduk di yayasan, maka tiga tahun lalu diangkat menjadi Ketua Yayasan UISU menggantikan ibu Sariani yang saat ini menduduki jabatan Ketua Dewan Pembina Yayasan UISU. Jabatan ini merupakan amanah bagi saya dengan prinsip ketika orang mau mengamankan jabatan itu kepada kita maka saya merasa hidup saya masih ada gunanya bagi orang lain. Selain itu saya juga aktif sebagai pembicara dalam berbagai seminar lokal dan nasional.

Tiga tahun lalu kenapa bapak mau diangkat menjadi Ketua Yayasan UISU, padahal seperti kita tahu sejak 2005 sampai sekarang Yayasan UISU terus bergejolak, bahkan sempat bentrok fisik?
Betul. Tapi itulah amanah. Yang namanya amanah mau tidak mau saya harus jalankan dengan baik. Memang soal perebutan kekuasaan di UISU sudah lama yang puncaknya 4 Desember 2005 yang ditandai dengan penyerbuan kantor Yayasan UISU kubu Helmy CS ke kampus UISU Almunawarah Jalan SM Raja Medan. Meskipun usia saya sudah tua seperti ini, saya merasa kejadian itu hanya biasa-biasa saja. Sedikit pun  saya tidak merasa takut dengan kejadian itu. Bahkan saat bentrokan terjadi saya menjadi barisan terdepan menghadang lawan meskipun akhirnya kami mengalah dan pindah kampus ke Jalan Karya Asrama Haji Medan. Saat kejadian itu saya merasa semangat saya dalam melawan PKI (partai komunis Indonesia) tahun 50- an lalu timbul kembali. Seperti semanggat angkatan 66, sebab di zaman itu saya dikenal sebagai aktivis melawat penjajah. Di zaman itu pula berbagai pergerakan mahasiswa saya ikuti semisal Ketua Badko HMI, Persatuan Komando melawan PKI dan pergerakan mahasiswa lainnya. Intinya saya banyak menghadapi tantangan. Bahkan saat penyerangan PKI waktu itu prinsif hidup saya adalah kalau tidak membunuh maka saya yang akan dibunuh. Itulah, sebabnya kenapa saat gejolak di UISU terjadi saya tetap tegar dalam menghadapinya. Saya berusaha menghadapi masalah itu dengan tenang dan berupaya untuk menyelesaikannya secara hukum.

Sebenarnya menurut bapak, kenapa UISU itu bergejolak?
Kalau kita flash back ke belakang, cerita UISU ini panjang. Saya sendiri sudah 12 tahun duduk sebagai pengurus Yayasan UISU. Pernah tahun 2000 lalu, para pengurus yayasan UISU mempublikasikan laporan keuangan UISU selama satu tahun anggaran. Soalnya waktu itu  sedang membenahi sistem keuangan di UISU. Dalam laporan itu, tertera neraca keuangan UISU mulai dari keuntungan dan lain sebagainya bahkan angkanya sampai miliaran rupiah. Dari situlah awalnya mulai terjadi konflik. Saya menduga mungkin hal itu yang melatarbelakangi konflik hingga seperti sekarang ini. Pihak-pihak luar terutama anak-anak pendiri yayasan UISU merasa tidak senang dengan kondisi UISU seperti itu sehingga muncul niat perebutan kekuasaan hingga terjadi konflik yang tidak berkesudahaan sampai sekarang ini. Kalau ditanya hati nurani, saya merasa sedih melihat konflik UISU padahal semua pengurus yang ada di dalamnya adalah umat Islam, yang seharusnya bersatu dan tidak terjadi konflik hingga terjadi bentrok fisik seperti tahun 2005 lalu. Tapi itulah sejarah yang tidak bisa diulang kembali dan mau tidak mau harus diterima sebagai bahan pembelajaran dan introspeksi diri di masa-masa mendatang.

Selama tiga tahun ini apa yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah UISU?  
Wah, banyak sekali. Kami dari pengurus yayasan khususnya saya sendiri harus bolak-balik Medan-Jakarta untuk menyelesaikan masalah ini. Dulu pada saat bentrok fisik kala itu Kapoldasunya bapak Bambang Hendarso Danuri (sekarang Kapolri) berjanji akan menyelesaikan kasus UISU sebelum akhir tahun, tapi sayang belum selesai kasus UISU beliau keburu pindah ke Jakarta hingga konflik UISU berlarut-larut hingga seperti sekarang ini. Saya menilai tidak selasainya konflik UISU disebabkan karena adanya semacam unsur pembiaran aparat penegak hukum yang tidak menyelesaikan masalah tersebut. Sebenarnya kami dari yayasan UISU meminta agar hukum di tegakkan. Artinya pengurus yayasan mana yang sah, aparat penegak hukum harus tegas dan menyampaikan hal tersebut kepada yang bertikai sehingga tidak terjadi konflik. Tapi fakta di lapangan yang terjadi malah pembiaraan.

Apa dampak dari pembiaran hukum itu?
Yah banyak sekali. Akibat tidak selesainya masalah UISU itu maka yang menjadi korbannya adalah mahasiswa. Soalnya beberapa kali pucuk pimpinan dalam hal ini rektor berganti, mulai dari kepemimpinan Prof Djanius Djamin, Prof Basyararuddin MS, hingga dr Chairul Mursin. Dari data kami ada sekitar 4.000 ijazah yang sudah dikeluarkan oleh ketiga pejabat rektor tersebut. Dari sisi kacamata hukum kita tidak bisa menilai apakah ijazah tersebut sah atau tidak. Namun dari pantauan kami di lapangan produk ijazah tersebut katanya cacat hukum sehingga perlu dilakukan pembenahan. Inilah salah satu efek dari pembiaran aparat penegak hukum tersebut. Kalau lah masalah UISU diselesaikan secepat mungkin maka mahasiswa yang kuliah di sana tidak akan terkenda. Legalitas mahasiswa yang menimba ilmu di UISU juga tidak diragukan yang dibuktikan dengan dikeluarkannya ijazah yang sah oleh rektorat.

Lantas apa yang akan dilakukan saat ini?
Kita menunggu. Memang dari hasil rapat muspida plus yang pimpin Gubernur Sumatera Utara yayasan UISU yang sah adalah kepengurusan kami. Saya sebagai ketua yayasan, dan ibu Syahriani sebagai Ketua Pembina Yayasan UISU. Informasi itu juga sudah disiarkan di mas media dan saya sudah membacanya, tadi (26/11). Sebagai pengurus yang ditetapkan sah berdasarkan rapat muspida kami tidak mau gegabah, dan setiap langkah yang kami lakukan harus berdasarkan keputusan rapat muspida. Makanya ke depannya kami akan terus kordinasi dengan muspida mengenai langkah apa yang harus kami tempuh pasca keluarnya keputusan tersebut.

Apakah pengurus yayasan yang kontra akan dirangkul?
Kalau ditanya perasaan tentunya saya senang. Sebab penegakan hukum yang selama ini kami nanti-nantikan ternyata sudah ditegakkan.
Kami sebagai pengurus yayasan UISU yang dinyatakan sah merasa senang dengan harapan bisa kembali lagi melakukan proses belajar mengajar di kampus UISU Jalan SM Raja Medan. Soal mengakomodir pengurus yayasan yang kontra saya tidak menjawab karena UISU bukan milik saya.
Nanti lewat rapat pengurus yayasan bisa diputuskan pengurus yayasan yang kontra dirangkul atau tidak. Namun dari sisi kemanusian, yang mendirikan UISU ada banyak orang, jadi kedepannya perlu diakomodir anak-anak pendiri yayasan. (*)

BIODATA

Nama
Prof  Dr Usman Pelly MA
Tempat & Tanggal Lahir
Lhoksemawe, 12 Juli 1938
Istri
Dra Zanibar Parinduri
Anak  5 orang

  1. Meutia Nauly SPsiM Psi Dosen Psikologi Fakultas Kedokteran     USU
  2. Ir Embun Sari, Staf BPN DKI Jakarta
  3. DR Ir Sri Fajar Ayu MMA Dosen  Unimed
  4. Ratih Baiduri MSi Dosen Antropologi Unimed
  5. Ir Andalucia MSc Dosen  Teknik Arsitektur USU   

Agama
Islam
Alamat Rumah
Kompleks Griya Unimed
Jabatan:

  1. Guru Besar Pascasarjana Unimed              (1982- sekarang),
  2. Promotor/Penguji Luar UNPAJ              Bandung 1992
  3. Guru Besar LB Pascasarjana IAIN             (Institut Agama Islam Negeri) Sumut 
  4. Promotor/Penguji Luar IAIN Jakarta dan         Yogyakarta
  5. External Examiner (Penguji Luar) UKM         (Universiti Kebangsaan Malaysia)             Bangi UM (Universiti  Malaya) 1997,             2001.

 

——

usman-pelly

[ketgambar]Usman Pelly[/ketgambar]

tamu-sby

[ketgambar]SBY BERTAMU: Prof Usman Pelly MA saat menerima Presiden SBY dan rombongan di rumahnya Jalan Gedung Arca Gang Jawa, April 2004 lalu. //istimewa[/ketgambar]

Comments (1)

  1. umat islam kota medan says:

    Insyaflah pak, sudah tua

Beri komentar

 
PLN Bottom Bar