Jenggot Tembak Dijual Rp 5 Juta
09:38, 17/01/2010Baginda Hakim Harahap, Pecinta Burung Berkicau
Kicauan yang merdu, membuat penghobi burung bisa merasa nyaman dan stres menjadi hilang. Mungkin itu satu alasan, mengapa banyak orang suka memelihara burung.
Baginda Hakim Harahap alias Ginda (36) satu dari ribuan pecinta burung. Dia mengaku tak bisa lepas dari burung-burung peliharaannya. Meski dia membuka usaha bengkel sepeda motor, namun dia tetap menyempatkan merawat burung-burungnya secara rutin. Burung-burung peliharaan Ginda diantaranya, murai batu dua ekor, kenari satu ekor, jenggot tembak dua ekor dan cucak jenggot jawa satu ekor.
Ginda mengaku suka memelihara burung sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Menurut dia, waktu itu dia main ke rumah temannya yang kebetulan tak jauh dari lokasi kontes/perlombaan kicau burung. “Waktu itu aku suka dengar kicauan burung-burung yang ikut lomba itu. Sejak itu muncul keinginanku untuk memelihara burung. Tapi baru tahun 1998 keinginan ku itu bisa kuwujudkan,” beber suami dari Triana Rilanda ini kepada wartawan koran ini, Jumat (15/1).
Dia memiliki burung pertama sekali beli dari teman. Burung itu dirawatnya dengan tekun. “Cara merawatnya, waktu kita beli, kita tanya kepada pemiliknya. Jadi, kita tinggal meneruskan pola merawatnya,” ungkap Ginda.
Menurutnya, setiap pagi sekira pukul 08.00 WIB, dia sudah mengelurkan burung-burung peliharaannya untuk dijemur agar terkena sinaran matahari pagi. “Sambila di jemur, diberi makan. Setelah itu, sekira pukul 11.00 WIB, satu per satu dimandikan,” beber lelaki berkulit sawo matang ini. Setelah dimandikan, lalu dijemur kembali sembari diberi makan lagi. Petangnya sekira pukul 17.30 WIB-18.00 WIB burung-burungnya disimpan dalam rumah.
Ginda yang merupakan anggota Indo Murai, wadah pecinta burung, mengaku sudah sering mengikuti lomba. Apalagi, kata Ginda, Indo Murai hampir setiap minggu menggelar latihan berhadiah (Latber). “Jadi, latber ini menjadi ajang lomba sesama anggota Indo Murai. Setiap peserta dikutip Rp20 ribu untuk pendaftaran,” ungkapnya.
Bapak dari satu orang anak ini mengatakan, burungnya sering mendapatkan gelar juara. “September 2009 lalu, burung jenggot tembak saya berhasil juara waktu ada perlombaan di kawasan Jalan Ngumban Surbakti. Usai juara, burung saya itu langsung ditawar orang. Akhirnya saya lepas seharga Rp5 juta,” bebernya.
Dia mengungkapkan, jika burungnya menjadi jawara, maka akan timbul rasa bangga. Itu makanya, banyak pecinta burung yang ingin burungnya menjadi juara agar bisa dilirik dan dijual dengan harga tinggi.
“Kalau soal harga, itu memang relatif. Tergantung hasil negosiasi dengan calon pembeli. Kalau burung kita bagus, kita bisa jual dengan harga tinggi,” bilangnya.
Dijelaskannya, daya tarik utama dari burung berkicau adalah kemampuannya dalam berkicau melantunkan irama lagu yang baik. Di samping keindahan postur burung, keindahan warna bulu burung, gaya berkicau burung yang eksotis (unik), tingkah laku burung yang lucu dan lain-lain.
Untuk melatih burung murai agar mampu berkicau dengan eksotis dan menirukan suara-suara lain, menurut Ginda, itu bisa dilakukan dengan mendengarkan suara-suara burung lain saat murai tersebut ganti bulu.
“Ya, saat murai ganti bulu, dengarkan suara-suara burung lain, suapaya dia bisa merekam dan menirukan suara-suara burung lain. Kalau perlu, kita beli kaset suara burung, kita putarkan di dekatnya,” beber Ginda. (ade)
—
Perawatan Cuma Rp100 Ribu Sebulan
Bagi pecinta burung, biaya perawatannya bukanlah menjadi masalah. Karena, biaya untuk merawat burung tidak terlalu mahal sehingga tidak ‘merobek’ kantong. Baginda Hakim Harahap mengaku, untuk biaya perawatan rutin enam ekor burungnya dia hanya menghabiskan uang antara Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per bulan.
Menurut Ginda, harga makanan burung-burungnya relatif lebih murah. Untuk jangkrik, selama sebulan hanya menghabiskan 2 ons jangkrik seharga Rp24 ribu.
Telur semut selama sebulan menghabiskan 3 ons seharga Rp21 ribu. Untuk pelet, sebulan hanya menghabiskan satu kotak yang berat 7 ons hingga 8 ons, seharga Rp10 ribu.
“Jadi, biaya perawatannya memang relatif lebih murah. Kecuali menjelang ikut lomba. Itu harus diberi makanan ekstra. Biasanya jangkriknya satu hari 15 ekor, kita tambah menjadi 20 hingga 30 ekor per hari. Meski begitu, paling banyak tambah biayanya sekira Rp30 ribu dari biaya rutin,” ungkap Ginda. Dengan biaya perawatan yang relatif murah tersebut, Ginda mengaku bisa menjual burungnya dengan harga jutaan rupiah.
“Tapi kalau burung kita juara, kalau nggak ya nggak ada yang mau beli,” bilangnya. (ade)
—-
Rajanya Mitos
Tak bisa dipungkiri, burung merupakan satwa yang teramat dekat dengan kehidupan manusia. Begitu dekatnya burung dengan manusia, aktivitas burung bisa dijadikan pertanda akan datangnya berbagai kejadian.
Cukup banyak contoh perilaku burung yang diartikan sebagai pertanda akan terjadi suatu hal di masyarakat. Misalnya, burung perenjak jawa (prinia familiaris) yang mengoceh di depan rumah, diartikan sebagai pertanda akan ada tamu, akan ada kebakaran atau akan ada rezeki tak terduga.
Kicauan burung gagak hitam (corvus macrorhynchus) malah bikin manusia ketakutan, karena diartikan sebagai datangnya kematian. Masih banyak lagi contoh-contoh yang lain, yang tidak hanya terjadi di Indonesia, khususnya Jawa, juga di mancanegara.
Sejauh ini, hubungan burung dengan berbagai kejadian atau fenomena alam itu memang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Meski kenyataannya memang sering terjadi, kicauan perenjak di depan rumah diikuti dengan kedatangan tamu beberapa saat kemudian, tetap saja itu bukanlah pembuktian yang sahih.
Toh, banyak rumah lain yang tidak didatangi perenjak juga ada tamu. Ini artinya, segala teori yang menghubung-hubungkan perilaku burung dengan berbagai kejadian itu hanya sebatas mitos, atau kepercayaan yang diyakini bersama oleh masyarakat tanpa ada pembuktian ilmiah.
Umumnya (berlaku universal di seluruh dunia), burung dibedakan menjadi dua kelompok pembawa berita. Kelompok pembawa berita buruk adalah elang, gagak, dan nasar. Sementara burung perenjak, wiwik, dan kedasi adalah kelompok burung pembawa kabar baik sekaligus buruk.
Jika Anda pernah menyaksikan film semi mistis karya Alfred Hitchcock bertajuk The Birds, mungkin Anda akan mendapat gambaran lumayan jelas mengapa perilaku burung dapat ditafsirkan berbeda-beda oleh manusia. Tentu saja, penjelasannya juga versi Hitchcock yang rajanya misteri. Secara sederhana, perkara mitos ini bisa dijelaskan dengan pemahaman bahwa burung memiliki ketajaman visual yang lebih dibanding manusia.
Burung yang selalu dikaitkan dengan hal-hal mistis juga melekat pada burung hantu. Burung yang satu ini banyak sekali dikaitkan dengan berbagai mitos yang menyeramkan. Singkatnya, burung ini doyan dekat-dekat dengan hantu atau setan sehingga suaranya jadi pertanda keberadaan hantu. Tapi ternyata, burung hantu ini tak hanya terkenal sebagai raja mitos di negeri ini, melainkan juga di mancanegara. Konon, di India, suara burung hantu bisa jadi pertanda akan datangnya kematian. Sementara itu di Yunani lain lagi, kalau ada burung hantu yang terbang mengitari pasukan yang tengah berperang, maka pasukan itu dijamin bakal menang.
Usut punya usut, burung hantu adalah nama yang diberikan kepada kelompok burung yang aktif pada malam hari. Terbangnya sama sekali tidak berisik alias tanpa suara, meluncur saja seperti hantu. Orang awam atau nenek-kakek kita dulu menyangka burung ini bisa terbang seperti hantu karena berkawan dengan hantu. (net/bbs)

