Motor Tua Penghilang Stress
09:37, 14/02/2010
Ahmad Bengar Harahap, Pecinta Motor Antik
Di usianya yang bisa dibilang masih muda, namun selera yang dimiliki Ahmad Bengar Harahap, Dosen Fakultas Bahasa dan Seni Unimed lebih tua dibandingkan usianya. Bagaimana tidak, hari-hari Ketua Old Motor Asosiation (OMA) itu tak bisa dilepaskan dari motor-motor
butut nan tua.
Sejak kecil, Bengar memang sudah menaruh hati kepada motor tua. Khususnya motor tua asal Eropa. Kok bisa? Bukankah susah mengurusi motor tua, yang usianya lebih tua dari pemiliknya?
“Itu dia letak nikmatnya. Susah dijelaskan dengan kata-kata. Tapi itulah adanya. Ada kenikmatan tersendiri ketika bisa menguasai mesin-mesin tua di balik motor itu,” terang Bengar kepada wartawan koran ini, beberapa hari lalu.
Wah, susah memang membayangkan ketika suatu waktu motor-motor tua itu harus mendapatkan ‘kasih sayang’ lebih. Bahkan tak berlebihan ketika para penggemar motor tua nan antik itu sebagai istri keduanya.
“Benar juga, banyak yang bilang hobi satu ini bisa mengalahkan segala-galanya. Tapi, itu pandai-pandai kitalah membagi waktu dengan keluarga, kerabat dan soal kerjaan. Jangan sampai semuanya terbengkalai,” lanjut Bengar.
Agar hobinya itu tersalurkan dan punya wadah, sejak beberapa tahun lalu Bengar bersama rekan-rekannya mendirikan satu komunitas motor tua bernama OMA. Di sinilah mereka bertukar pikiran dan berkumpul untuk sekadar membahas perkembangan sepeda motor tua.
Namanya sudah hobi, para penikmat motor tua memang tak pernah berhenti berinovasi plus sedikit mengkhayal agar motor tuanya bisa tampil gagah penuh pesona. Memang, itu yang jadi salah satu alasan kenapa ada yang menggilai motor tua.
Menurut Bengar, salah satu nikmatnya memanjakan motor tua dan duduk manis di atas untuk menunggangnya adalah ketika mereka berhasil jadi pusat perhatian.
“Nah, coba bayangkan. Ketika sedang di jalan, terus berhenti di lampu merah, ada dua motor yang berdampingan. Motor standar biasa dan motor tua yang unik dan antik. Lantas siapa yang menjadi pusat perhatian kalau bukan motor tua? Nah di situ ada kebanggaan tersendiri,” tambahnya.
Itu kisah yang senang-senang saja. Lantas apa dukanya? Nah, kalau bicara duka, tampaknya akan lebih banyak kisahnya dibandingkan sukanya. Yang paling umum dialami para biker motor tua adalah masalah mesin yang sering ngadat. Satu pekan nyala, satu bulan nonggok di bengkel itu hal yang biasa.
Tapi jangan tanya kepuasannya ketika motor-motor itu akhirnya menyala kembali. Tak mudah memang, tapi di situlah letak kepuasan sejatinya.
“Makanya proses panjang kerap menjadi bulan-bulanan kami para penikmat motor tua. Dalam memperbaiki motor tua tentu saja tak semudah memperbaiki motor biasa. Dibutuhkan lebih banyak energi untuk berpikir hingga berimajinasi,” kata Bengar. (ful)
—
’Berburu’ hingga ke Jerman dan Belgia
Dalam perjalanannya, Bengar tentu tidak begitu saja jatuh cinta pada motor tua. Ada proses panjang sehingga kecintaannya pada motor tua benar-benar klop.
Diceritakan Bengar, kecintaannya pada motor tua bermula ketika dia masih duduk di bangku SMP. Saat itu dia selalu diantarkan orangtuanya ke sekolah dengan mengendarai motor tua. Dari sana dia mulai jatuh hati. Apalagi saat itu orang-orang selalu memperhatikan motor tua milik ayahnya. Perasaan ingin jadi pusat perhatian pun muncul.
Tapi butuh waktu yang cukup panjang hingga Bengar punya motor tua sendiri. Bukan setahun dua tahun, Bengar membutuhkan waktu hingga belasan tahun untuk menggapai mimpinya punya motor tua sendiri. “Bisa punya motor tua sendiri waktu sudah bisa mencari uang sendiri,” kenang Bengar.
“Almarhum ayah saya dulu selalu mengantar saya ke sekolah naik motor tua. Dari situ saya mulai tertarik. Apalagi di dekat rumah, ada bengkel yang sering memperbaiki motor tua. Tahun 1999, saya mulai membeli motor tua pertama saya bermerek Union buatan Jerman tahun 1954,” bilang Bengar.
Kini, ketika akhirnya Bengar mapan dalam urusan keuangan penyaluran hobinya pun kian menjadi-jadi. Saat ini dia punya tujuh motor tua. Masing-masing punya nilai histori dalam perburuannya. Motor tua milik Bengar diantaranya Pannonia buatan Hungaria tahun 1965. DKW pabrikan Jerman tahun 50-an. BMW, Zundapp hingga motor tua klasik gawean Jepang Honda CB.
‘Berburunya’, Bengar bersama rekannya pecinta motor tua bisa sampai keluar Sumatera. Meskipun mayoritas motor-motor tua itu berhasil ditemukan dalam berbagai kondisi di pedalaman perkampungan di Sumatera Utara. Namun tak jarang juga Bengar bersama komunitasnya berkordinasi dalam ‘perburuan’ hingga ke Jerman.
“Di negeri sendiri, perburuan terjauh kami sampai Depok, Bandung hingga Surabaya. Terjauhnya sampai Jerman dan Belgia,” beber Bengar. (ful)
[ketgambar]ANTIK: Ahmad Bengar Harahap mengendarai sepeda motor antiknya, BSA buatan Jerman tahun 1954. // [/ketgambar]



Saluuuuuut bos sy jg pengidola motor beneran ( clasic ) tp smpai hari ini blum jodoh ma motor beneran /clasic (dalam hal ini sy nyebut Badak ) kan motor doeloe terkenal kuat abiiiz . skrng lg ngelus cc kecil boz LIVE TO KEEP THEM A LIVE