Di Mana Posisi Kolektor dan Kurator Medan?
09:48, 21/02/2010Ramadhan Batubara
Masih ingat dengan Pak Tino Sidin? Ya, pelukis yang memiliki ciri khas topi baret hitam ini pada tahun 80-an begitu dikenal karena mengasuh acara ‘Gemar Menggambar’ di TVRI. Dalam acara ini Pak Tino mengajar anak-anak bahwa menggambar itu mudah, dan merupakan perpaduan dari garis-garis lurus dan garis-garis lengkung. Pada akhir setiap acara beliau menunjukkan gambar-gambar yang dikirim oleh pemirsanya dan kemudian menambahkan komentar yang sangat dikenal, “Bagus!”
Kenangan pada Pak Tino ini seakan menyeruak seketika dibenak saya kala ingin menulis soal seni rupa di Medan. Ya, saya ingin menjadi Pak Tino – yang bisa mengatakan ‘bagus’ pada setiap gambar yang diterimanya. Pasalnya, saya bukanlah seorang kurator, pun bukan seorang praktisi seni rupa. Nah, jika saya bukan sosok yang tepat untuk memvonis sebuah karya bagus atau tidak, adalah sangat lancang jika saya berpendapat seni rupa Medan telah mati. Atas dasar ketidaktahuan ini, pertanyaan muncul dibenak saya: bagaimana cara agar saya bisa mengetahui perkembangan seni rupa Medan. Maka, jawaban yang muncul adalah galeri seni.
Tak sulit mencari galeri di Medan, tercatat ada galeri Tondi, Simpasri, Payung Teduh, Galeri Seni Rupa A1, Rowo Art Gallery, dan sebagainya. Masalah yang timbul adalah sosok kurator yang memiliki wibawa di dunianya.
Ya, bak di sebuah penerbitan buku, kurator adalah sang editor. Dialah yang bisa memvonis sebuah naskah berhak menjadi buku atau tidak. Di sebuah galeri, kurator adalah panglimanya. Sayang, profesi ini malah kurang populer.
Secara tipis, Kota Medan seakan menenggelamkan sosok kurator yang dimaksud. Dari sekian pameran, sosok ini terlalu tertutup dibanding sang perupa. Malah, adapula sebuah pameran tanpa melibatkan seorang kurator. Pameran yang digagas bak gotong royong saja. Dengan kata lain, beberapa perupa yang memiliki lukisan, berkumpul dan bermufakat untuk membuat pameran lukisan. Gejala ini bisa menghancurkan standar. Ya, bayangkan saja, beberapa penulis menggabungkan naskahnya menjadi sebuah buku tanpa peran seorang editor. Ingat, yang dimaksud di sini adalah editor, bukan semata pemeriksa aksara.
Belum lagi, peran seorang kurator juga mampu menaikkan harga lukisan yang dipamerkan. Pengetahuan yang berujung pada kewibawaan seorang kurator menjadi standar bagi seorang kolektor untuk membeli lukisan yang dipamerkan.
Ayolah, apakah seorang kolektor memilih sebuah lukisan hanya karena lukisan itu cantik atau sekadar indah? Tidak, lukisan bukan semata gambar pemandangan gaya anak taman kanak-kanan. Sebuah lukisan mewakili dunia ideal dari pelukisnya. Dan, ini yang membuat mahal. Jadi coba bayangkan, seandainya, dunia ideal yang digagas pelukis tak sampai ke kolektor? Akan lakukah lukisan itu? Kuratorlah yang dibutuhkan seorang kolektor ketika mengunjungi galeri atau pameran lukisan.
Berbicara soal kolektor, mungkin karena kurangnya peran kurator, minat kolektor untuk menginvestasikan dananya ke lukisan menjadi tidak begitu marak. Coba simak kalimat seorang kolektor seni di Medan, Sofian Tan, di sebuah media beberapa waktu lalu. “Seni, bagi saya, ibarat penyeimbang hidup. Membuat orang menjadi humanis,” jelasnya.
Sebuah sinyal yang menarik bagi perupa bukan? Dengan kalimat singkat tersebut, Tan seakan membuka diri untuk menginventasikan dananya di dunia seni. Ya, soal seni, bukanlah hal yang merugi. Seperti yang pernah dikatakan seorang kolektor di Medan, Franky Pandana.
“Karya Handi Wandirman, misalnya, dulu dibeli Rp14 juta rupiah. Namun, siapa sangka nama perupanya bisa tiba-tiba naik daun dan karya-karya lukisannya pun ikut melambung. Belakangan karya lukis Handi Wandirman tersebut naik menjadi Rp400 juta,” katanya dalam sebuah diskusi seni rupa beberapa waktu lalu.
Nah, hal seperti ini yang seharusnya dilihat oleh galeri. Siapkanlah seorang kurator andal agar orang-orang seperti Sofian Tan dan Franky Pandana semakin menjamur. Hasilnya, kehidupan perupa Medan semakin layak.
“Masih banyak pemilik uang di Medan yang belum menyadari bahwa untuk investasi di dunia seni rupa itu sebenarnya sangat menjanjikan,” tambah Franky.
Namun, bagi galeri, tak bijak juga mencari kurator bergaya Pak Tino Sidin; yang selalu mengatakan ‘Bagus’. Pasalnya, Galeri bukanlah tempat proses, tapi tempat ‘jualan’. Barang yang ‘dijual’ adalah barang jadi. Dan, kerja kurator disini benar-benar diuji demi kenyamanan seorang kolektor menggelontorkan setumpuk uangnya. Bukankah begitu? (*)


aduh..aku digambarkan seperti seorang investor ketimbang seorang penikmat. hahahaha..