Identitas yang Hilang

09:22, 07/02/2010

Panda MT Siallagan

Banyak sastrawan dan kritikus Indonesia terjangkit ‘sindrom luar’. Ada cerpenis, penyair atau novelis yang gemar menulis tentang Amerika, Jepang, Eropa bahkan Timur Tengah. Ada yang mengeksplor latar dan tema itu secara intens berikut kultur dan kondisi sosial masyarakatnya, tapi tak sedikit yang hanya mencantol nama. Sementara kritikus, hampir pasti selalu bicara tentang sastra Indonesia lewat kacamata teori dan filsafat Barat.
Maka ketika muncul diskusi atau polemik tentang sastra atau produk seni secara umum, pemikiran atau karya-karya ‘merek luar’ itu seperti lagu wajib dilantunkan sebagai referensi. Mungkin agar terkesan mewah, intelek, elegan, cerdas dan berbudaya. Atau mungkin kita memang sudah tertakdir jadi objek percaturan global di segala bidang. Wah…!

Mengapa gairah bisa meluap secara hebat ketika kita bicara tentang Octavio Paz, Pablo Neruda, Samuel Beckett, Federico García Lorca, Yasunari Kawabata, Milan Kundera, Albert Camus dll, ketimbang diskusi tentang sastra atau sastrawan kita? Mengapa banyak cerita mengambil tema dan latar kota-kota gemerlap dan populer di dunia?

Gugatan di atas muncul secara mengejutkan lewat pesan pendek yang dikirim Beta Niadong ke telepon seluler saya beberapa hari lalu. Saya sesungguhnya tak tertarik, sebab saya percaya bahwa kualitas kerja budaya selalu lahir dari pembelajaran dan pembacaan lintas batas. Mengapa harus cerewet menyikapi orang yang getol membaca atau menulis hal-hal di luar dirinya? Ada pepatah: jangan seperti katak dalam tempurung, maka dunia ini memang harus dikembarai agar wawasan lapang, mental jadi matang dan ruang intelektualitas meluas.

Ternyata Beta Niadong sependapat dengan saya. Lalu mengapa sahabat saya ini uring-uringan seperti pecundang yang tak punya daya juang? Tidak ada apa-apa, katanya. Ia hanya tak setuju jika diskusi tentang proses kreatif Pramoedya Ananta Toer, misalnya, kerap dikait-hubungkan dengan Jhon Steinbeck, novelis AS terkemuka. Pram memang belajar dari Steinbeck bahkan pernah menerjemahkan novel peraih hadiah Nobel tahun 1962 itu.

“Kalau begitu,” katanya, “Baca saja Steinbeck. Jika Pram memang ‘menyontek’ Steinbeck, kau boleh lupakan dia seumur hidupmu. Aku tak akan sedih.”

Setengah marah Beta Niadong membela Pram. Katanya, Pram memang pengagum Steinbeck, tapi tidak lantas menulis tentang Amerika, tidak lantas menulis New York dan ceruk-ceruk kelamnya. Ia tetap menulis ‘Indonesia’, tentang kolonialisme, tentang realitas Hindia ketika itu. Nah, bagaimana penulis Indonesia mutakhir?

“Saya rindu ada pembahasan khusus tentang ini,” kata Beta Niadong melalui telepon. Dia akhirnya menelpon saya sebab tak leluasa diskusi melalui SMS.

Menurutnya, topik di atas penting dibahas, sebab sastra kontemporer kita mulai tiba di ambang kerusakan akibat kultus berlebihan terhadap segala hal yang berbau ‘luar’ itu. Tengoklah cerpen terbaik Indonesia 2008 versi Anugerah Sastra Pena Kencana. Sebanyak 20 cerpen dalam buku itu, bolehlah mewakili Indonesia sebab telah tersaring dari 10 koran representatif di tanah air. Beberapa cerpen di buku itu memang banyak berhawa ‘luar’.

Cerpenis bernama Antoni, misalnya, bicara tentang pengusaha pesawat carter di Guiana, AS Laksana menyinggung soal peramal China, Triyanto Triwikromo menulis tentang panti jompo di Amerika, Eka Kurniawan menulis La Cage aux Folles. Jika beberapa dari 20 cerpen terbaik Indonesa sudah bicara tentang ‘bukan indonesia’, benarkah semua itu terbaik untuk Indonesia?

Alangkah menggugah andai cerpen-cerpen terbaik itu bicara Indonesia, tentang desa atau kehidupan anak-anak Sakai Riau yang masih bertelanjang dada, misalnya. Alangkah sedih jika sastra hebat (cerpen pilihan itu) diset jadi ‘juru bicara luar’. Tidakkah lebih baik kita bicara tentang kita, mengeksplorasi kekayaan kultur dan subkultur milik kita?

Saya diam, tapi Beta Niadong kian meletup dan mulai bersabda, “Jangan lupa, sastra Perancis hebat bukan karena sastrawannya bicara tentang kafé di Indonesia. Sastra Jepang agung bukan karena bicara tentang keris empu-empu Indonesia. Sastra Tiongkok abadi dan kekal dengan kandungan kebijaksanaan hidup yang maha dasyat, bukan karena gagah-gagahan mendiskripsikan dunia. Mereka hebat karena menggali nilai-nilai luhur kebudayaannya.”

Saya tak tahu apakah Beta Niadong mengumbar pikiran itu setelah membaca berita di sejumlah media. Sebab, penulis asal Prancis yang mahir berbahasa Indonesia, Jean Couteau, memang melancarkan kritik pedas terhadap sudut pandang para seniman Indonesia. Meski kritik itu lebih ditujukan pada seni rupa, tapi konteksnya sangat relevan untuk sastra. Seni rupa kontemporer China dan India, kata Couteau, sangat diapresiasi karena identitas lokal tumbuh di lahan global, namun di Indonesia justru sebaliknya.

Couteau mengungkapkan hal itu saat berbicara dalam simposium internasional tentang budaya urban bertajuk “The 2nd International Symposium, Urban Studies: Arts, Culture, and History” yang digelar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, 23 Januari lalu.
Menurut Couteau, prediksi McLuhan tentang “Global Village” atau “World City” tidak berlaku untuk budaya. Sebab budaya itu tidak mudah menjadi global. Faktanya, apa yang terjadi di Eropa dan di Indonesia, sungguh bertolak belakang. Di Eropa, seni kontemporer menghadirkan seni rupa lokal dalam konteks kekinian, seperti seni rupa kontemporer khas China dan India. Tapi, 80-90 persen seni rupa di Indonesia mengonstruksi diri dengan ikon-ikon dunia modern kapitalis.

“Kalau pun ada ikon lokal yang digunakan, itu hanya pelengkap, sampingan dari objek global yang diutamakan. Anda, sebagai bangsa Indonesia, akan kehilangan ikon-ikon lokal, karena dilahap kapitalisme jika tak mau mengganti kacamata itu,” katanya.

Saya ‘marah’ membaca berita itu. Kemarahan saya kian menggelegak mendengarkan ulasan ringkas versi Niadong tentang sastra Indonesia kontemporer. Tapi kepada siapa saya marah? Saya hanya bisa mengkhayal, betapa kaya kebudayaan Indonesia, Medan dan Sumatera Utara. Betapa kuat posisi kesenian dan kebudayaan milik etnis dan sub etnis yang ada, betapa jamak identitas lokal yang bisa digali, betapa…! Saya hanya bisa menghayal menggauli semua itu dalam puisi atau cerita. Hanya menghayal? Ya, sekaligus mencoba!***

Beri komentar

 
PLN Bottom Bar