Ketika Pena tak Bertinta
09:55, 14/02/2010Apa jadinya kalau pena yang mau kita goreskan kata tak bertinta? Sehuruf pun tentu tak bakal terlihat. Cuma bayang goresan pangkal pena saja yang pasti membekas di atas kertas. Tentunya, siapapun tak dapat membaca makna dari bayang goresan di kertas itu, kecuali si penulis sendiri. Ide seluar biasa apapun tak akan dapat dinikmati pembaca. Ironisnya, ide itu kandas hanya dalam benak sang penulisnya sendiri.
Kondisi ini tentu sangat awam dialami banyak penulis. Bagi saya masing-masing penulis memiliki penanya sendiri, cuma tintanya berbeda. Bagi penulis yang punya banyak amunisi tentu bisa menggunakan tinta bermerek Parker. Dengan begitu, ide dalam benaknya bisa mengalir deras bak air bah di atas kertas menciptakan karya spektakuler atau paling tidak populer bagi pembacanya. Lalu, bagaimana dengan penulis bertipe ibarat ‘mati segan hidup tak mau?’, tinta yang digunakan pun standar dan sering macet. Karya yang dihasilkan tentu saja juga standar, paling tidak hasilnya bisa sekadar melepaskan dahaga yang haus atau perut yang lapar. Kalau begitu, bagaimana dengan penulis yang mempunyai pena tapi sama sekali tak bertinta? Hasilnya tong kosong nyaring bunyinya. Idenya boleh segudang tapi karyanya nol besar. Sungguh menyedihkan. Inilah kenyataan yang sedang saya alami bersama kedua rekan saya.
Kami bertiga sepakat bahwa pena yang kami miliki sekarang tintanya sudah mengering. Kami ingin menjerit, meronta dan berteriak ‘Pena kami kering!’, ‘Pena kami tak bisa menggoreskan apapun!’ ‘Pena kami cuma bisa melihat pena lain yang masih menari di atas kertas dengan lincah.’ Rasanya tentu sangat pahit bak empedu. Rasa empedu itu pun kami kunyah bersama-sama. Kami lumatkan bersama-sama. Di samping, kami tetap berupaya mencari dokter, paranormal, psikolog hingga dukun beranak. “Mungkin kita sudah gila, hingga tidak bisa lagi berkarya,” ujar temanku gundah.
“Bukan mungkin itu disebabkan kita terjebak rutinitas. Aktivitas yang melelahkan menyebabkan kita kelelahan sehingga ide tak lagi bisa diasah,” jawabku ringan.
“Terjebak aktivitas. Tentu tidak! Bukan itu alasan kita tak lagi bisa berkarya,” temanku ini begitu ngotot kalau aktivitas bukan penghalang penulis menjadi mandek. Aku pun membenarkan pendapatnya. Temanku ini mulai membeberkan perjalanan kreatif penulis novel The Firm dan The Client, John Grisham yang dengan kesibukannya sebagai seorang lawyer dan politikus tapi masih bisa meluangkan waktunya menulis di atas notes kecil yang dibawanya kemana saja setiap hari. “Bisa dibayangkan sibuk kalinya si John itu. Tapi masih bisa dia berkarya. Nah, kita bulshitlah..,”kata temanku yang satu lagi.
John Grisham merupakan satu novelis yang berkarya dengan meluangkan waktunya di tengah kesibukannya. Penulis ini mengerjakan bukunya satu hingga dua lembar per hari. Jhon memang sungguh sosok yang konsisten. “Saya meneruskan menulis buku itu sekalipun saat menderita flu, saat bertamasya dan kerap kehilangan waktu tidur..,” ujar Jhon ketika suatu kali mengungkap proses kreatifnya kepada media. Buku pertama Jhon ditolak hingga 251 kali oleh penerbit tapi Jhon tak pernah kenal putus asa dan terus berkarya kini buku-bukunya sudah terjual lebih dari 235 juta eksemplar di seluruh dunia. Pengalaman Jhon Grisham senada dengan pengalaman novelis popular JK Rowling yang menghasilkan novel Harry Potter yang mampu membius pembaca di seluruh dunia. JK Rowling pun merupakan penulis yang awalnya ditolak penerbit hingga berulang kali, tapi dia tetap terus berkarya.
Kalau melihat pengalaman novelis sekelas Jhon Grisham dan JK Rowling sebenarnya tak ada alasan mengapa kita tak berkarya. “Atau mungkin kita harus kelaparan dulu seperti kisah di novel Laparnya Knut Hamsun, peraih nobel sastra dan penulis asal Roma Norwegia itu,” ujar temanku lagi. Temanku ini pun membeberkan kisah tokoh utama dalam novel Knut yang harus lapar dulu baru bisa menulis. Tapi setelah dia mendapatkan royalti dari novelnya diapun makan yang lezat dan menghabiskan uangnya, tapi dia tak mampu menulis sepatah katapun. Dia baru bisa menulis kembali saat lapar.
“Tak harus lapar dulu kupikir baru bisa bekarya. Penyakit kita adalah malas dan tak konsiten. Lihat teman kita yang sudah umurnya kepala enam masih mampu menerbitkan novel. Sementara kita, dengan daya ingat yang masih tajam, pendengaran masih jelas justeru tak punya novel. Berarti kita malas kan?” ungkap temanku penulis cerpen layang-layang merah jambu.
Kami pun sepakat dengan hasil analisa temanku yang satu ini. Mungkin malas dan tak konsisten penyebab utama mengapa pena kami mengering. Lalu, apa yang bisa menjadi cambuk dan melecut proses kreatif itu sehingga pena kami bisa bertinta kembali? Kami pun berkomitmen untuk memberlakukan denda bagi siapa di antara kami yang tidak berkarya dalam sebulan. Mungkin kedengarannya sedikit aneh. Tapi ini harus dilakukan! Kalau tidak mungkin kami bertiga atau penulis lain bisa terlena. Merasa cukup jika karyanya sudah dipublikasi media atau sudah menelurkan satu dua buah novel. Seperti si Laparnya Knut Hamsun yang terlena dengan hasil royalti yang diperolehnya. Mudah-mudahan tak ada dari kita yang terlena lalu teruslah berkarya. (*)

