Sapu Tangan Dibentuk Jadi Es Krim
09:07, 21/02/2010Sri Utami MS Maida, Pecinta Souvenir dari Kain Handuk
Sapu tangan dari kain handuk biasanya digunakan untuk mengelap keringat dan sebagainya. Namun, bagi Sri Utami Maya Siska Maida Spi, sapu tangan ini bisa dijadikan sebagai souvenir yang menarik. Bahkan, dia kini memiliki ratusan koleksi souvenir dari bahan sapu tangan handuk di rumahnya.
Sejak duduk di kelas 3 sekolah dasar (SD), cewek yang akrab disapa Tami ini, suka membuat kerajinan tangan. Saat itu, dia sering membantu ibunya membuat bunga dari bahan kain, kertas dan sebagainya. “Memang sejak SD, kalau ibu saya buat bunga, saya sering bantuin. Entah kenapa saya memang suka membuat kerajinan tangan, lalu di pajang di rumah sebagai koleksi pribadi,” ungkap cewek kelahiran Sri Pamela, Tebing Tinggi, 9 Mei 1985 ini ketika ditemui wartawan koran ini di Singapore Station, Jalan Brigjend Katamso, Rabu (17/2) lalu.
Sejak saat itu, mulai muncul bakat kreativitasnya. Segala macam kerajinan tangan mulai ditekuninya. Seperti membuat souvenir dari batok kelapa hingga dari sapu tangan handuk yang kini banyak dikoleksinya di rumahnya.
Untuk souvenir dari sapu tangan handuk ini, Tami yang merupakan alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau memiliki cerita tersendiri. Pasalnya, dia sama sekali tidak pernah berpikir kalau sapu tangan berbahan kain handuk itu bisa dijadikan souvenir dengan berbagai macam bentuk, motif dan kreasi.
“Ya, awalnya iseng saja. Ide itu muncul ketika saya ikut mengantar sepupu saya nikah. Saya lihat, maharnya seperangkat alat salat seperti mukena dan sejadah digulung-gulung menjadi berbagai bentuk,” beber cewek yang mengaku tinggal di Jalan Batangkuis Pasar 9 No 54, Tanjung Morawa, Deli Serdang ini.
Nah sejak itu, dia pun iseng dengan menggulung-gulung sapu tangan dari kain handuk untuk dijadikan kerajinan tangan. “Waktu itu saya terpikir, bagaimana kalau sapu tangan ini bisa saya bentuk menjadi seperti es krim? Lantas saya sengaja membeli es krim hanya untuk mendapatkan wadahnya saja,” beber asisten dosen di Sekolah Tinggi Kelautan dan Perikanan Indonesia Lubukpakam ini.
Setelah mendapatkan wadah es krim tersebut, dia pun mulai membentuk kain handuk tersebut seolah-olah menjadi es krim. Agar terlihat indah, es krim dari kain handuk tersebut dibungkusnya dengan plastik kaca dan dihiasinya dengan berbagai asesoris lainnya. “Inilah souvenir dari kain handuk yang pertama kali saya buat. Ketika teman saya datang, dia lihat sovenir ini. Menurut dia bagus dan banyak yang suka,” ungkap putri sulung dari tiga bersaudara ini.
Sejak itu, dia semakin sering membuat souvenir dari kain handuk dengan berbagai macam motif, diantaranya motif hati (love), es krim, bolu gulung (Swissroll), sandwich, bunga mawar, kue kipas dan lain sebagainya.
Disebutkannya, untuk membuat souvenir dari sapu tangan handuk ini membutuhkan keuletan dan telaten. Karena, saat menggulung kain handuk ini dibutuhkan kesabaran agar hasilnya lebih maksimal. “Apalagi saat memasukkannya ke dalam wadah dan membentuknya sesuai dengan keinginan kita. Jika tak sabar, hasilnya nggak maksimal,” beber anak dari pasangan Setiawan dan Rosmaida Siregar ini. (mag-7)
—
Mengubah Hobi Jadi Bisnis
Hobi tak selamanya membutuhkan biaya besar dan identik dengan pengeluaran. Buktinya, Tami bisa mengubah hobinya menjadi peluang usaha dan menjadi pemasukan yang cukup lumayan.
Peluang usaha ini muncul ketika banyak teman-teman dan keluarganya yang menyukai dan memesan souvenir hasil karyanya untuk berbagai acara. Nah, sejak itu diapun berpikir untuk menjual hasil kreativitasnya tersebut.
“Memang permintaan cukup banyak. Ya, cukup kerepotan juga sih,” ujar cewek yang murah senyum ini.
Saat perayaan valentine yang lalu, Tami mengaku cukup banyak mendapat pesanan. Seperti dari panitia perayaan Valentine di Hotel Grand Aston City Hall. Waktu itu, tami menerima order sekira 250 souvenir berbentuk love.
“Valentine kan identik dengan love, makanya mereka pesan semuanya bermotif love,” ujar Tami yang baru mendapatkan gelar Sarjana Perikanan pada 24 Oktober 2009 lalu ini. Selain dari acara-acara di hotel, Tami juga mengaku rutin mendapat order dari teman-teman dan keluarga yang pesta untuk cenderamata pernikahan.
Mengenai harga, menurut cewek berjilbab ini, harganya semua relatif. Tergantung pada bahan dan tingkat kerumitan membuat souvenir tersebut. Namun, dia menjelaskan, jika mengambil souvenir dalam partai kecil satu souvenir dijualnya dengan harga Rp6.300 hingga Rp11.000 per souvenir. Namun jika memesan dalam partai besar atau di atas seratus souvenir, satu souvenir dihargai Rp3.800 hingga Rp8.500.
“Jadi soal harga, lihat dulu bahan dan tingkat kerumitannya. Karena memang bahan-bahannya berbeda-beda. Jenis kain handuknya kan berbeda-beda, makanya harganya juga berbeda-beda,” beber cewek yang dikenal ramah ini.
Dia mengaku, dari usahanya ini dia bisa berpenghasilan bersih sekira Rp1,4 juta per bulan. “Bagi yang mau mesan, bisa langsung hubungi Tami di nomor 081265136105. Kami langsung datang untuk membawakan contohnya,” beber Tami. (mag-7)
—
Bercita-cita Buat Pusat Souvenir
Selama ini, warga Medan kesulitan untuk mencari di mana pusat penjualan souvenir. Baik itu untuk acara pesta pernikahan, ulang tahun maupun seminar dan sebagainya. Jika pun ada, tidak terlalu lengkap dan cukup terbatas.
Nah, atas dasar pemikiran itulah, Tami bercita-cita membuat sebuah pusat penjualan souvenir di Kota Medan, sehingga warga Medan yang membutuhkan souvenir bisa dengan mudah memesan souvenir yang diinginkannya.
“Selama ini, saya rasa di Medan belum ada pusat penjualan souvenir terlengkap. Orang-orang masih kesulitan mencari di mana tempat membuat souvenir. Itu makanya, saya bercita-cita untuk mendirikan pusat souvenir terlengkap di Medan, sehingga ketika ada yang ingin memesan souvenir untuk acara pesta maupun seminar dan sebagainya, langsung terpikir satu kata, oh… di sana tempatnya,” beber Tami sambil tersenyum.
Menurutnya, cita-citanya ini memang tidak terlalu berlebihan. Pasalnya, dia akan terus berkreasi membuat beraneka ragam souvenir. “Saya akan terus belajar membuat berbagai macam souvenir. Seperti sekarang, saya sedang mencoba membuat souvenir dari sabun. Saya terus berkreasi bagaimana agar sabun ini terlihat indah dan menarik,” bebernya.
“Kalau sudah seperti itu, siapa saja yang membutuhkan souvenir bisa dengan mudah memesan souvenir yang diinginkannya. Jenis souvenirnya apa, modelnya bagaimana, bahannya apa, jadi semua bisa dengan mudah ditemukannya di pusat souvenir itu,” lanjutnya lagi.
Untuk menunjang itu semua, Tami menyadari kalau dia tidak bisa bekerja sendiri. Itu makanya, dia pun mulai membina mahasiswanya di Sekolah Tinggi Ilmu Kelautan dan Perikanan Indonesia Lubukpakam untuk membuat souvenir. “Kan lumayan untuk uang saku mereka. Lagipula ini menjadi ilmu bagi mereka untuk hari depan,’ tambahnya lagi. (mag-7)


unik n kreatif, klo bisa kasih tip cara pembuatannya ok bravo