Tertua di Sei Sikambing
09:10, 05/02/2010Masjid Jamik M Jaya, Jalan Gatot Subroto Medan
Masjid yang satu ini tergolong tua. Soalnya sejak zaman PKI tahun 1965 masjid ini sudah berdiri kokoh. Hanya saja waktu itu masih berstatus sebagai musala. Seperti apa kondisinya?
Menyusuri Jalan Gatot Subroto Kelurahan Sei Sikambing terdapat bangunan masjid yang diberi nama Masjid Jamik. Pada masa itu, musala memprihatinkan, lantainya masih beralaskan tanah, dindingnya terbuat dari papan, dan atapnya masih bertutupkan seng. Sedihnya lagi, saat musim hujan, jamaah tak bisa melaksanakan salat di musala ini, karena lantainya tergenang air. Letak tanah musala ini, berada satu meter lebih rendah dari lahan yang ada di sekitarnya.
Letak musala ini berdiri di atas tanah seorang lurah (dahulu masih kepala desa), secara otomatis, tanah tempat masjid ini berdiri diwakafkan oleh sang kepala desa yang bernama M Jaya. Oleh sebab itu Masjid Jamik’ ini namanya ditambahkan nama sang kepala desa. Pada masa bergejolaknya G30S PKI itu, banyak masyarakat yang berlindung dalam masjid. Masyarakat berfikir dengan berada di dalam masjid akan terlindung dari berbagai bencana. Masyarakat yang berlindung juga tak hanya yang muslim, tapi juga yang non muslim.
“Masjid ini dari dulu hingga sekarang tak berubah luasnya, yakni 14 x 14 meter. Yang berubah hanya bangunannya saja. Mungkin hanya bertambah lebar sedikit pada sisi teras di bagian utara masjid. Tiang masjid yang ada di dalam masjid juga sengaja tak dirombak,” ungkap M Shahrom Rambey, tokoh masyarakat yang tinggal di sekitar Masjid Jamik M Jaya tersebut, kepada wartawan. Pada 1964 lalu, status musala ini pun berubah menjadi masjid. Namun, tanpa perombakan bangunan sama sekali. Tapatnya pada 1994, barulah masjid ini dilakukan perombakan. Tanahnya ditimbun hingga sejajar dengan lahan di sekitarnya, bangunannya juga dibangun secara keseluruhan menjadi permanen.
“Pembangunan masjid ini menjadi semegah yang sekarang ini memakan waktu sepuluh tahun. Pembangunannya selama itu karena, pembangunannya juga bertahap. Tak sekaligus langsung dibangun, begitu ada dana baru dilakukan dibangun, begitu seterusnya hingga jadi seperti ini,” jelasnya.
Menurut Shahrom, daerah sekitar masjid ini dulunya adalah daerah Perkebunan Tembakau Deli Maskapai milik Belanda. Karena itu pula, daerah-daerah sekitar masjid ini diberi nama sesuai kaplingan perkebunan itu. “Ada yang Sei Sikambing A, B, C I, C II, dan D,” terangnya.
Masjid yang hingga saat ini dapat menampung hingga 300-an jamaah ini merupakan masjid tertua di Kelurahan Sei Sikambing C II Kecamatan Medan Helvetia Medan. “Masjid ini juga terdapat perpustakaan di dalamnya. Dulu masjid ini banyak menyimpan buku-buku yang sangat berharga untuk pendidikan agama juga umum,” ujarnya.
Masjid Jami’ M Jaya juga memiliki menara yangmenjulang tinggi untuk memperdengarkan adzan setiap masuk waktu salat fardhu. “Menara ini juga dirancang agar aman bagi masyarakat. Pada waktu itu, menara dirancang dengan banyak jendela, blong. Di daerah ini kan sering terjadi angin kencang, jadi dengan konstuksi yang seperti itu, meminimalisir terjadinya ambruk satu bangunan,” katanya.
Untuk menambah pengetahuan jamaah tentang Islam, masjid juga mengadakan pengajian bagi kaum bapak dan ibu. Selain itu, pihak Badan Kenaziran Masjid (BKM) Jamik M Jaya ini juga menggelar perwiridan bagi kaum bapak juga ibu. Dan untuk memperingati dan merayakan hari-hari besar Islam, pihak remaja masjid berperan aktif dalam hal tersebut.(saz)
[ketgambar]PINTU GERBANG: Pengendara sepeda motor melintas di pintu gerbang Masjid Jamik. // sazali/ Sumut Pos[/ketgambar]

