Kepada pemasang iklan, pelanggan, dan relasi diberitahukan, sehubungan dengan perayaan Idul Fitri 1431 H, Sumut Pos tidak terbit mulai 9 September 2010. Kami akan hadir kembali Selasa, 14 September 2010

Penangkapan Teroris Kelompok Baru

01:57, 05/03/2010

Meski sudah menangkap beberapa orang yang diduga terkait terorisme di Aceh. Namun Polri masih melakukan pengejaran terhadap WNA yang diduga memiliki keterkaitan dengan kelompok teroris di Aceh.

Demikian disampaikan Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Edward Aritonang di Mabes Polri, Jakarta, Senin (1/3). “Belum ada warga negara asing, tapi mereka terindikasi pernah latihan di luar negeri,” ujarnya.

Edward mengatakan, dari tujuh pelaku yang ditangkap di Aceh karena diduga terlibat kegiatan terorisme belum ada warga negara asing yang ditangkap. Polri, kata dia, masih terus mengembangkan penyidikan kasus tersebut.

Kepala Densus 88 Antiteror Mabes Polri Brigjen Pol Tito Karnavian, ketika dikonfirmasi memastikan bahwa jumlah pelaku yang berhasil diamankan mencapai tujuh orang. “Sudah ada tujuh orang, kita masih terus mengembangkan dan mengejar pelaku lain yang diduga ada warga negara asing, diduga dari timur tengah” jelas Tito.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri membenarkan, adanya penangkapan teroris oleh aparatnya di Aceh. “Itu betul sudah ada 3 yang ditangkap. Apa peristiwanya dan bagaimana kaitannya belum bisa saya jelaskan. Nanti pada saatnya kita akan sampaikan melalui Kadiv Humas,” ujar Kapolri usai rapat kerja dengan Komisi III DPR RI, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (23/2).

Penangkapan itu sendiri berlangsung sekitar 14 jam. Polisi mulai bergerak Senin 22 Februari 2010 siang usai salat dzuhur hingga pukul 04.00 WIB, Selasa (23/2). Sempat terjadi baku tembak saat itu, namun hanya tiga orang yang berhasil ditangkap. Dalam penggrebekan ini, seorang warga bernama Kamarudin (37) tewas dan melukai seorang anak, Suheri (14).

Polda Nangroe Aceh Darussalam juga meyakini tiga orang yang ditangkap Polres Aceh Besar, adalah kelompok jaringan teroris, yang diduga kuat terkait kelompok Imam Samudera dan Noordin M Top.

Polisi juga menemukan sejumlah barang bukti seperti buku berjudul ‘Mimpi Suci Dibalik Jeruji Besi’ karangan Al Gufron dan pakaian loreng motif Malaysia, di lokasi penangkapan di Kecamatan Kuta Malaka, daerah kawasan Janto arah Gempang, seperti ditemukannya. Di lokasi penggerebekan juga ditemukan dokumen-dokumen yang diduga milik warga negara asing.

Pada 25 Februari Polda Aceh kembali menangkap tiga orang yang diduga terkait kelompok teroris ini. Polisi juga menyita M-16, senjata rakitan dan senapan angin beserta puluhan amunisi. Ketiganya ditangkap di sebuah rumah warga di kawasan Saree, Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar. Senjata tersebut ditemukan di atas plafon beserta 17 butir pelurunya.

Peneliti Lembaga Research Center for Terrorism and Security, Rakyan Adibrata menilai kelompok yang berlatih militer di pegunungan-pegunungan Aceh itu adalah kelompok baru. “Mereka adalah orang-orang yang bersimpati dengan masa depan gerakan jihad radikal di Indonesia,” ujar Rakyan di Jakarta, Sabtu (27/2).

Rakyan menilai kelompok itu sengaja memanfaatkan lokasi Aceh yang tepat untuk berlatih secara aman. “Tidak ada pilihan lain, kalau mereka memakai Gunung Slamet di Jawa Tengah misalnya, dalam setengah hari sudah pasti diketahui polisi. Begitu juga kalau pakai lokasi di Jawa Timur, Jawa Barat atau Sulawesi,” kata pria yang pernah riset dan kursus analisis terorisme di Prancis itu.

Kelompok itu, kata dia, juga memanfaatkan lokasi bekas latihan Gerakan Aceh Merdeka yang sangat cocok untuk memperkuat kemampuan fisik calon anggota. “Vegetasi hutannya sangat lebat, sangat cocok untuk berlatih gerilya,” kata Alumnus Fakultas Hukum UII itu.
Lokasi pegunungan Aceh yang saling terhubung juga menyulitkan aparat untuk menangkap. “Misalnya area Nagan Raya hingga Tapak Tuan di Aceh, lokasinya berbukit memanjang dan saling terhubung. Dulu di Tapak Tuan saat masih ada GAM, jadi basis serangan egrilya mereka,” katanya.
Namun, Rakyan tak yakin kelompok baru itu mendapat sokongan dari mantan GAM. “Memang ada warga lokal yang terlibat, tapi dia bergabung setelah pergi ke Bandung dan Banten. Jadi, analisis kami ini adalah kelompok sisa-sisa NII di Banten yang sedang mencari basis lokasi latihan baru,” katanya.

Soal keterlibatan warga asing, hal itu sangat mungkin. “Imigran Afghanistan yang masuk ke Indonesia jumlahnya puluhan bahkan hampir seratus. Bisa saja beberapa kelompok pendukung di Afghanistan mengirimkan mudarrib ( instruktur/pelatih militer) untuk melatih jaringan ini,” katanya.(cmm)

Beri komentar

 
Banner Lebaran 2010