Anak Perlu Perhatian Khusus
08:26, 13/03/2010MEDAN- Banyak orangtua mulai kurang peduli dengan anaknya. Imbasnya, anak-anak sekolah kian jamak yang terjerumus ke pergaulan dan sek bebas hingga prostitusi.
Hal ini diungkapkan Kepala Bagian Psikolodi Sosial, Fakultas Pikologi Universitas Gajah Mada (UGM), Prof Dr Koentjoro MBSc PhD, di Universitas Medan Area (UMA), Kamis (12/3). Koentjoro mengatakan, hal ini disebabkan anak perempuan kurang kasih sayang orangtua. ”Ini bisa dilihat pada kasus remaja yang dalam jangka tiga bulan berkenalan lewat facebook sudah bicara pernikahan dan mau menikah,” jelasnya.
Koentjoro mengatakan, indikator dari kasus itu menunjukkan satu sisi prilaku seks yang meningkat. ”Selain itu, faktor sosial yang menurun dari tingkatakan orangtua. Maka jangan heran jika ada di tingkat SD terjadi penggermoan,” katanya.
Koentjoro mengaku, memecahkan lingkaran permasalahan prostitusi tidak sederhana. “Apalagi di dunia ini terjadi dua perubahan sosial. Perubahan sosial yang pertama, berdasarkan teknologi. Itu bisa dilihat sejak revolusi di Inggris, ditambah globalisasi dengan perubahan telekomunikasi, pariwisata dan transparansi,” terangnya.
Perubahan sosial ini menurut Koentjoro akan berdampak pada pengelompokan dalam keluarga yang akhirnya menimbulkan kurangnya intensitas pertemuan. ”Awalnya dari radio, televisi, dengan begitu menimbulkan perubahan kenyamanan, sehingga relasi antar tetangga jadi sangat berkurang. Kemudian berlanjut pada pengelompokan keluarga, lantas komunikasi antar keluarga pun berkurang,” paparnya.
Kondisi ini, lanjutnya, bisa memunculkan banyak orangtua yang merasa anak-anak zaman sekarang tidak miliki budi pekerti. ”Kemudian banyak muncul keluhan tentang budi pekerti, sementara di sisi yang lain, perkembangan zaman semakin dahsyat termasuk muculnya handphone serta internet,” katanya. Jika dikaitkan dengan pelacuran, katanya, maka anak SMP pun mau menjual temannya sendiri.
Revoluasi kedua, sambungnya, dalam bidang ideologi. Didasari oleh perubahan mulai dari penggunaan alat kontrasepsi membuat pergeseran soal prilaku seks. “Jika dulu hubungan seksual untuk reproduksi, kini seks untuk rekreasi. Dan inilah yang semakin menguatkan masalah pelacuran. Dan pelacuran pada anak-anak sudah menjadi sebuah gaya hidup. Dan karena untuk kepuasan itu juga, kita bisa melihat banyak seks shop dijumpai,” jelasnya.
Menurut Koentjoro, kini lesbian, homo juga sudah tidak dianggap sebagai prilaku seks menyimpang. “Bahkan, lima tahun lalu, pekerja seks di dunia tidak mau dianggap sebagai pekerja seks komersial. Mereka hanya mau disebut pekerja seks tanpa mau komersial, karena mereka tersinggung,” terangnya.
Maka, lanjutnya, dengan dunia yang semakin tak baik ini, hal yang paling penting untuk dilakukan yakni, dari tingkat keluarga. ”Orangtua harus lebih peduli dengan anaknya,” katanya.
Solusi lainnya, kata Koentjoro, pemerintah harus tegas mengatur bisnis protitusi. ”Dunia prostitusi dan politik tidak bisa dipisahkan. Sejarah membuktikan, sudah ada semacam ini meski bentuknya beda, seperti selir-selir termasuk dari zaman Belanda,” jelasnya. (saz)


