Membina Mental Spiritual Kaum Wanita hingga Akhir Hayat
09:29, 09/03/2010Mengenang Wafatnya Almarhumah Hj Yusna Syamah, Pengurus Pengajian Al Hidayah
Nama Hajah (Hj) Yusna Syamah memang tak setenar nama Raden Ajeng (RA) Kartini, namun perjuangannya untuk membina spiritual kaum wanita patut ditauladani. Itu dapat dirasakan para kerabat dan kader Hj Yusna Syamah di Medan.
Hj Yusna Syamah kini telah tiada. Istri dari almarhum H Syamsuddin ini wafat di usia 77 tahun, Rabu (24/2) lalu dengan meninggalkan 11 anak. Suami Hj Yusna merupakan pensiunan TNI-AD yang aktif di kegiatan jurnalis milik TNI-AD I/Bukit Barisan. Suami Hj Yusna wafat pada tahun 1995.
“Almarhumah Ibu Hj Yusna dan suaminya sangat peka dengan kehidupan sosial, mereka sangat aktif di organisasi dan mereka dikenal hampir di semua kalangan,” tutur Hj Rosda Naswan Efendi, anggota pengajian Al-Hidyah Medan Helvetia saat menggelar tujuh hari wafatnya Hj Yusna Syamah di kediaman rumah duka di Jalan Melati Raya Lingkungan IV No 165 Medan Helvetia Medan, Rabu (3/3) kemarin.
Dalam acara ini, hadir Ketua Golkar Medan M Syaaf Lubis, Camat Medan Helvetia HM Reza Hanafi S STP MAP dan Lurah Helvetia Rahmat Harahap, pengurus dan pengajian Al Hidayah Sumut dan Medan.
Sisa hidup Hj Yusna memang dihabiskan untuk mengurus pengajian Al-Hidayah yang diketuai istri Gubsu, Hj Roslina di Sumatera Utara. Jabatan Ketua pengajian Al Hidayah Medan Helvetia yang diembannya tak menyurutkan semangatnya untuk membina mental dan spiritual kaum wanita di lingkungannya meski usianya terbilang uzur. Misi yang dilakukan Yusna bisa dikatakan berhasil.
Buktinya, banyak kader-kader Yusna yang dibawa untuk mengikuti kegiatan pengajian lainnya baik tingkat I dan II di Sumut. Termasuk muktamar pengajian seluruh Indonesia di Jakarta yang berlangsung di Hotel Grand Cempaka.”Itulah kenangan terakhir kami dari mendiang,” ujar Rosda.
Selain Ketua pengajian Al Hidayah, Hj Yusna juga banyak berkecimpungan organisasi pengajian lainnya. Beliau sebagai penasihat di Tausiah Zikir dan Doa (Taskira) Sumut. Selain itu Hj Yusna pernah duduk di Golkar Sumut, di biro bagian Pembinaan Mental dan Spiritual.”Sesuai dengan karakternya, Ibu Yusna itu dikenal oleh teman-teman orang yang tegas, disipilin, namun dalam membela dan memperjuangkan anggota begitu gigih, apalagi membantu orang kesusahan, dan itu bukan untuk pengajian saja, kaum-kaum lainnya beliau seperti itu tanpa pandang bulu, makanya di lingkungan ini ia dikenal sekali,” kata Rosda.
Ternyata, sebelum berkecimpung di pengajian Al-Hidayah, Hj Yusna aktif di Partai Golkar.Ia termasuk perintis Partai Golkar di Sumut di tahun 1970-an. ”Di Golkar dulu ada namanya Kesatuan Perempuan Partai Golkar, karena masa berlakunya habis, bagian itu sekarang tak terdengar lagi,” timpal Ibu Ani, rekan seperjuangan Hj Yusna.
Sakin padnya dengan Partai Golkar, hampir seluruh anak-anak Hj Yusna harus ikut di Partai Golkar.”Kalau kami tidak ikut, ibu kami itu marah, makanya anak-anaknya pernah berkecimpung di pengurusan Partai Golkar baik itu tingkat Medan maupun kecamatan,” kata Syukri Naldi, anak laki-laki tertua almarhumah Hj Yusna.
Dalam kesempatan ini Syukri mengharapkan kepada kerabat, teman dan orang yang pernah bersinggungan dengan orang tuanya untuk memaafkan almarhumah Hj Yusna Syamah, bila ada hutang dan kesalahan yang dilakukan ibunya. ”Kami juga meminta doa dari masyarakat agar doa kedua orang tua kami di terima Allah Swt, amin,” tutur Sykri didampingi keluarga lainnya. (*)
Kiriman: Naldi
Warga Jalan Melati Raya, Medan Helvetia

