Laili Tiga Generasi
10:37, 20/06/2010Cerpen Zuriaty Daulay
Kusibakkan horden jendela sewaktu kudengar suara tangisan minta tolong. Seorang anak perempuan mencoba melindungi kepalanya dengan kedua tangannya dari lemparan anak-anak yang terus mengikutinya seraya berteriak, “Orang gila…! Orang gila…. pencuri…pencuri…!” Dia sangat ketakutan.
“Hentikan!” hardikku geram, seketika hening. Anak perempuan itu berlindung di belakangku.
Kubalikkan badanku menghadapnya. Ya Tuhan, darah mengalir menutupi hampir seluruh wajahnya. Baju kumalnya basah oleh keringat dan darah.
“Siapa yang melakukan ini?” tak ada sahutan. Kupandangi mereka satu per satu. Separuh lebih dari mereka merupakan murid-muridku. Kupelototkan mataku. Semua tertunduk tak berani menatapku.
“Kamu juga ikut melempar, Lian?”
“Tidak, Bu,” jawabnya cepat.
“Dia bohong, Bu. Tak dia ikut menolakkan ke parit!” sergah seorang anak.
“Sumpah, Bu. Tadi malah saya mencoba menolong menarik tangannya keluar.”
“Ayo bubar!”
Semua berlalu kecuali Lian, ia mendekatiku.
“Saya tidak bohong, Bu.”
“Ibu percaya.”
Kami mendekati anak perempuan itu. Ia mundur beberapa langkah, ketakutan.
“Ampuun, jangan pukul aku. Aku tidak mencuri,” rintihnya.
Kuulurkan tanganku perlahan. Kusentuh dagunya lembut. Didongakkannya wajahnya menatapku. Tiga aliran sungai mengalir deras di wajahnya. Dua dari matanya. Bening satu dari keningnya, berwarna merah darah.
“Ibu percaya, kok. Kamu bukan pencuri, mereka itu yang jahat. Ayo kita masuk!” Kuraih tangannya, dingin. Kulihat keraguan di matanya. Kualihkan tatapanku ke Lian, seakan mengerti apa yang ada di kepalaku.
Cepat ia berkata, “Ayo kita masuk. Nggak apa-apa. Ini ibu guruku, dia baik kok.” Diraihnya tangan gadis kecil itu, dengan takut ia menurut.
Kusuruh ia mandi. Kubersihkan lukanya. Kucoba mengakrabkan diri dengannya. “Nama kamu siapa?” tanyaku hati-hati.
Dia masih menatapku curiga, seakan tidak percaya dengan ketulusanku. Mungkin selama ini tak ada yang bisa ia percaya. Kugenggam tangannya sekedar memberikan ketenangan. Aku berhasil. Ia mulai mengeluarkan suara. Tatapan matanya memelas, mengiba, memohon perlindungan kepadaku.
“Aku Laili, Bu.”
“Namamu sama dengan ibu guru,” potong Lian cepat.
“Rumah Laili di mana?”
“Aku tinggal di Jalan Mawar, rumah Mami Eli.”
“Yang warna biru lantai dua, nomor 30?” sambungku.
Ia menganggukkan kepala. Aku sangat tahu rumah itu terkenal sebagai tempat WTS beroperasi.
“Kenapa Laili sampai ke sini?”
“Aku lari dari sana, Bu.”
“Loh, kenapa? Kasihan, kan. Orangtua Laili pasti cemas.”
Butir-butir bening kembali mengalir di pipinya. Kuhapus dengan sayang, kuberikan senyum terindahku selama 25 tahun aku tersenyum.
“Di sana,” ceritanya, “…aku tinggal dengan ibu. Kata ibu, ayahku banyak. Ia tak tahu yang mana. Semuanya bajingan!” Ia sesenggukan, “…tadi malam aku didandani ibu, tak lama kemudian ada seorang om masuk ke kamarku. Mereka membicarakan sesuatu entah apa, aku tak mendengarnya. Tak lama kemudian ibu pergi, om itu mendekatiku. Lalu memelukku dan menciumi wajahku. Aku memberontak, dia memelukku lebih erat. Lalu diciuminya leherku, tangannya meraba bagian dadaku. Dia mencoba membuka bajuku. Aku panggil-panggil ibu tapi ia terus pergi tanpa menoleh kepadaku. Om itu terus mencoba membuka bajuku. Langsung kutendang dia. Kuraih vas bunga di meja. Kulemparkan ke kepalanya sampai berdarah. Dia marah lalu memukulku, menendangku. Sampai aku terjajar ke dekat lemari. Kemudian kuraih gunting yang ada di situ. Lantas kutusukkan ke perutnya. Darah muncrat ke mukaku. Dia terhuyung lalu rebah ke lantai.”
Laili menghentikan ceritanya sejenak, lalu memulai lagi, “Setelah itu aku lari ke luar rumah, sembunyi di warung Pok Atik. Paginya aku pulang, ibu malah marah-marah mencercaku dengan kata-kata ‘anak haram, anak sial, anak jadah’. Bagai kesetanan ia menjambak rambutku, menamparku. Aku takut lalu lari sampai di sini. Aku nggak tahu, Bu. Aku nggak kerja kok tiba-tiba mau dibayar.” Disekanya airmatanya dengan punggung tangannya.
“Lalu…,” sambungnya, “….ada anak laki-laki membuang botol minumannya. Karena aku kehausan, aku ambil saja botol itu tapi ia meneriakiku ‘pencuri….pencuri….’ lalu anak-anak lain melempariku dan mengejar-ngejarku…..” ia kembali menangis, memohon, “Demi Tuhan, aku nggak mencuri, Bu! Aku nggak bohong.”
“Iya, Ibu percaya Laili nggak mencuri. Laili nggak bohong.”
“Om itu mati nggak? Kami nanti ditangkap polisi. Kamu akan dipenjara,” gumam Lian, pelan ketakutan.
Wajah Laili yang pucat semakin pucat. Seolah tak ada setetes darahpun yang mengalir di bawah kulitnya. Gelas di genggamannya seketika jatuh ke lantai dan pecah. Serpihannya berkeping-keping. Mungkin seperti serpihan itu, hati dan jantungnya sekarang. Tak dirasakannya lagi sakit daari luka lebar yang ada di keningnya. Bibirnya yang pecah, matanya yang sembam mungkin dikarenakan lemparan anak-anak tadi sore, atau pukulan dari om hidung belang yang ingin memperkosanya.
Mereka berdua menatapku dengan rasa takut yang amat sangat. Kucoba tersenyum, sekedar memberikan ketenangan pada mereka. Meski aku sendiri dengan susah payah menghentikan debaran jantungku yang juga berpacu dengan cepat.
“Lian, kamu harus janji pada Ibu. kamu tidak akan menceritakan semua yang Lian dengar tadi dengan siapapun. Juga pada ayah dan ibu Lian! Lian mau kan?”
Lian mengangguk ragu. Kucoba memberikan keyakinan padanya, “Lian mau Laili dipenjara karena dituduh membunuh om itu?” dia menggelengkan kepala. “Lian nggak kasihan dengan Laili? Lian mau melihat Ibu juga dipenjara karena dituduh menyembunyikan Laili?” diapun kembali menggelengkan kepala. “Lian sayang kan sama Ibu?” dia mengangguk.
“Lian janji, Bu, Lian nggak akan cerita pada siapapun,” katanya pasti.
Kutatap Laili. Kakinya hampir tak dapat menopang tubuh mungilnya. Kutangkap ia sebelum tersungkur ke bumi. Dua anak sungai kembali mengalir deras dari matanya. Tubuhnya basah oleh keringat dingin yang keluar dari seluruh pori-porinya yang tak tahan menahan rasa takut yang amat sangat. Kupapah ia ke kamar.
“Laili istirahat, ya? Semuanya akan baik-baik saja. Laili nggak usah takut. Kan ada Ibu.” kataku mencoba memberi keyakinan padanya untuk menghilangkan rasa takutnya. Meski aku sendiri tak yakin.
Kurebahkan tubuhku di ranjang. Laili, gadis kecil berkisar 13 tahun, nama yang sama, jalinan peristiwa yang sama, kisah hidup yang sama denganku. Limabelas tahun yang lalu, aku tak tahu siapa ayahku. Aku juga dijual ibuku. Aku lari dan diselamatkan seorang guru SD yang juga bernama Laili, yang juga tidak tahu siapa ayahnya, yang juga dijual oleh ibunya.
Aku diangkatnya menjadi anak, dilindungi, diberi jutaan kasih yang tak pernah kudapat dari ibuku yang laknat! Atau dari ayahku yang keparat hingga menjadi guru SD bertitel S1.
“Bu, boleh aku masuk?” suara Laili membuyarkan lamunanku. Kubuka pintu kamarku, di situ Laili duduk bersimpuh.
“Bu, aku mau di sini. Jangan usir aku, Bu. Kasihanilah aku!” dia sujud kepadaku seperti saat aku memohon ampun pada Tuhan. Lima belas tahun yang lalu aku juga melakukan hal yang sama, di tempat yang sama juga dengan seorang guru SD. Aku tak tahu apa yang sudah aku lakukan. Yang kutahu aku sudah memeluknya, menangis seperti dirinya.
Malam itu juga kubawa Laili pindah ke kota lain, jauh dari ibunya. Kusembunyikan dia dari incaran polisi, yang kutahu sedang mencarinya dari koran yang kubaca hari ini. Aku tak tahu apakah aku melakukan tindakan yang benar atau salah. Yang kutahu, aku ingin membawanya seperti yang dilakukan Ibu Laili 15 tahun yang lalu kepadaku.
Ah, Tuhan. Tiga kali Kau menuliskan skenario yang sama dengan tiga pemain bernama sama, permainan nasib yang sama kami lakonkan. Mohonku Tuhan, jangan lagi masukkan ibu-ibu jahanam dan ayah-ayah terkutuk dalam skenarioMu. Sudahi kisah ini Tuhan! Cukup sudah kami, Laili dari tiga generasi mengalaminya.
Kini dua tahun sudah Laili tinggal bersamaku. Tak akan pernah kuserahkan dia kepada siapapun. Akan kujadikan dia guru, seperti yang dilakukan Ibu Laili kepadaku.
Sekip. 2010
Zuriaty Daulay,
lahir di Lubukpakam, 16 Maret 1968. Alumni S1 UNIMED Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia dan kini bekerja sebagai Guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Negeri 1 Lubukpakam dan MTS Nurul Ittidaiyah.


