Kepada pemasang iklan, pelanggan, dan relasi diberitahukan, sehubungan dengan perayaan Idul Fitri 1431 H, Sumut Pos tidak terbit mulai 9 September 2010. Kami akan hadir kembali Selasa, 14 September 2010

Pong, Sang Pembela…

11:14, 31/07/2010

Usai mencorat-coret atap Gedung DPR, aktor kawakan Pong Harjatmo terus tampil di stasiun televisi. Tadi malam, ia menjadi pembicara di obrolan langsat (obsat). Dengan bangga, Pong yang berusia 68 tahun itu menunjukkan sepatu yang dikenakan melakukan aksi nekat itu.

Sekira pukul 19.30 WIB, Jumat (30/7) malam, Pong tiba di angkringan Wetiga, Jalan Langsat Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dia datang menggunakan mobil sedan biru tua dan langsung menyapa para hadirin. “Selamat malam,” ucapnya. “Saya lagi mikir, mana lagi yang jadi sasaran (aksi coretan),” candanya diikuti tawa dari peserta diskusi.

Aktor yang sudah membintangi 50-an film dan sinetron itu mengaku tidak ingin mencari popularitas. Karena, sejak empat dekade ia sudah populer di lewat film. Siapa sesungguhnya Pong? Aktor yang lahir di Solo, 13 September 1942 silam itu dikenal sebagai aktor yang kerap memerankan tokoh antagonis. Setamat SMP, ia melanjutkan sekolahnya ke SGPD (Sekolah Guru Pendidikan Jasmani) dan bekerja di Dinas Pendidikan Jasmani Angkatan Udara di Solo. Sebelum terjun ke dunia layar lebar, ia pernah menjadi tentara dan guru pendidikan jasmani.

Bosan menjadi pegawai, pada tahun 1966, ia memutuskan untuk ikut bermain film. Debut Pong dimulai pada 1969 dalam film Cheque sebagai peran pembantu. Awalnya sebagai pemain pembantu, kemudian dilanjutkan bermain dalam film Tantangan (1969), Bernafas Dalam Lumpur (1970), Awan Djingga (1970), Bertjinta Dalam Gelap (1971), Dara-Dara (1971), Perawan di Sektor  Selatan (1971), Seriti Emas (1971) dan Kipas Sutra (1971).

Ketika dunia layar lebar Indonesia meredup, ia beralih ke dunia layar kaca. Dalam sinetron, ia banyak memerankan karakter orangtua yang bijaksana.

Dalam filmnya yang bertajuk Sang Pembela, yang menceritakan tentang membela yang lemah serta kejujuran, ia bermain bareng dengan bintang film Pretty Asmara. Baginya, beradu akting dengan junior bukan masalah besar. “Saya nggak mendapat kesulitan, emang dalam film itu harus ada regenerasi. Mereka juga asyik kok meski kerja sama senior,” ujarnya.

Ia juga sempat terlibat dalam pembuatan film tercepat versi MURI, “Tuhan Jangan Pisahkan Kami” karya sutradara Damien Dematra pada Januari 2010 lalu. Suami dari Raldiastri ini, di masa mudanya juga dikenal sebagai penari.(net/bbs)

Kata kunci pencarian berita ini:

Beri komentar

 
Banner Lebaran 2010