Ian Singleton PhD, Pemerhati Orangutan di Sibolangit

Orangutan Kok Hidup di Kota

Kecintaan berlebihan dan rasa ingin memiliki orangutan hingga memeliharanya secara ilegal, menerbitkan keprihatinan pemerhati lingkungan.

DIRAWAT: Ekspresi seekor orangutan  diberi nama Gokong Puntung  usia 6 bulan beranjak sehat usai dirawat  ruangan khusus observasi orangutan Stasiun Karantina Batumbelin-Sibolangit, Selasa (5/3). //AMINOER RASYID/SUMUT POS

DIRAWAT: Ekspresi seekor orangutan yang diberi nama Gokong Puntung dengan usia 6 bulan beranjak sehat usai dirawat di ruangan khusus observasi orangutan Stasiun Karantina Batumbelin-Sibolangit, Selasa (5/3). //AMINOER RASYID/SUMUT POS


SIBOLANGIT-  Pasalnya, meski dipelihara secara baik, tetap saja binatang asli Pulau Sumatera dan Kalimantan itu tidak bisa hidup normal. Berada jauh dari habitatnya mempercepat proses kepunahan kelangsungan hewan yang dilindungi tersebut.

Itulah yang menjadi dasar Program Konservasi Orangutan Sumatera, Stasiun Karantina Orangutan Betumbelin Sibolangit mengkarantina orangutan. Di tempat konservasi itu telah berdiri sejak 2001 ini, orang-utan disembuhkan agar mampu bertahan saat dilepaskan kembali ke alam liar.

Menurut pengawas di program konservasi orangutan di Sibolangit, Ian Singleton PhD, saat ini ada 46 ekor orangutan di Stasiun Karantina Orangutan Betumbelin Sibolangit.

“Semua orangutan di sini hasil sitaan dari rakyat yang dipelihara secara ilegal karena bertentangan dengan undang-undang. Hewan ini termasuk hewan yang dilindungi sama seperti harimau dan badak,” papar pria kelahiran Kota Hull, Propinsi Yorkshire, Inggris pada 1966 ini.

Sementara ini, ada tiga ekor orangutan yang mungkin tidak bisa dilepaskan ke alam liar karena menderita penyakit. Satu ekor positif hepatitis walau tidak ada symptom penyakit sedangkan satu ekor lainnya menderita penyakit berat.

Pria yang mengawali karirnya sebagai perawat satwa untuk beberapa spesies yang berbeda di Kebun Binatang Whipsnade dan Kebun Binatang Edinburgh ini mengungkapkan, orangutan hasil sitaan selama beberapa tahun terakhir di seluruh Indonesia telah mencapai jumlah 2.800 ekor. “Lokasinya tersebar di berbagai kawasan di Indonesia.” katanya.

Ia menyayangkan lemahnya penegakan hukum terhadap para pelaku pemelihara orangutan tersebut, ditambah lagi lambannya proses dan penegakan hukum.

“Menariknya, kebanyakan orangutan ini dipelihara orang-orang di kota karena memang biaya untuk memberi makannya sangatlah mahal. Rata-rata yang memeliharanya adalah pejabat, kaum birokrat, bisnisman maupun pengusaha,” bebernya.

Untuk tahap pertama semua Orangutan yang disita ini dimasukkan terlebih dahulu ke kandang isolasi selama beberapa hari. Setelah tidak ditemukan tanda-tanda penyakit berbahaya, barulah digabungkan bersama orangutan lain yang telah disita sebelumnya.

Rata-rata orangutan menghabiskan waktu selama enam bulan hingga satu setengah tahun di pusat konservasi tersebut untuk menjalani perawatan maupun proses pengenalan terhadap habitat aslinya. Selain itu mereka juga menghabiskan makanan sebanyak 3-5 kg dalam seharinya.

Untuk urusan penyediaan makanan, pihak konservasi terbantu berkat sumbangan para petani pemilik lahan di sekitar konservasi.

Ian Singleton menjadi spesialis orangutan ketika pindah tugas ke Kebun Binatang Jersey di kepulauan British Channel Islands pada 1989.

Sebagai seorang peneliti, ia berulang kali mengunjungi Indonesia untuk mempelajari lebih mendalam mengenai orangutan liar sampai akhirnya meninggalkan Jersey pada 1996 untuk memulai studi PhD (doktoral) mengenai perilaku (ranging behaviour) orangutan di hutan rawa gambut Suaq Balimbing, di Taman Nasional Gunung Leuser.

Setelah menyelesaikan tesisnya, pada 2001 ia bergabung dengan Yayasan PanEco, yang berbasis di Swiss, dan Yayasan Ekosistem Lestari, untuk mendirikan Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP).

Saat ini Ian terus disibukkan dengan recovery orangutan hasil sitaan untuk direintroduksi ke kehidupan liar di alam bebas. Selain itu, dia juga mengurus aktivitas penelitian lapangan dan pemantauan populasi liar orangutan Sumatera yang tersisa, dan mengupayakan perlindungan habitat mereka. (mag-14)

Berita terkait:

  • Rizky Pranata Ozora Surbakti

    Semoga kasus ini tetap berkembang .

  • rahmat

    Syukur ALHAMDULILLAH hal yang tidak pernah terbayankan dan tidak pernah
    terpikirkan kalau saya bisa seperti ini,mungkin dulu saya adalah orang
    yang paling termiskin didunia,karna pekerjaan saya cuma pemulun dan
    pendapatan saya tidak bisa mengcukupi kebutuhan keluarga saya dan suatu
    saat kami kumpul baren sesama pemulun dan ada teman saya yg berkata,ada
    dukun yang bisa menembus semua nomor yg namanya AKI SANTANU dan saya
    meminta nomor AKI SANTANU pada teman saya,dan tanpa banyak pikir saya
    langsun menghubungi AKI SANTANU dan alhamdulillah dgn senang hati AKI
    SANTANU ingin membantu saya asalkan saya bisa memenuhi pendaftaran
    untuk masuk member,dan saya dibantu dalam 5x putaran dan alhamdulillah
    itu semuanya benar benar terbukti tembus,saya sangat berterimah kasih
    banyak kepada AKI SANTANU berkat bantuan beliau,sekaran saya sdh mau
    membuka usaha untuk masa depan kami dan sankin senannya saya tidak bisa
    mengunkapkan dengan kata kata,bagi anda yang ingin seperti saya silahkan
    hubungi AKI SANTANU di 082 317 877 775 AKI SANTANU memang para normal
    yg paling terhebat dan tidak seperti para normal yg lainnya yg kerjanya
    cuma bisa menguras uang orang,jika ada yang memakai atau mengambil
    pesan ini tanpa ada nama AKI SANTANU dan nomor beliau itu cuma penipuan
    dan itu cuma palsu,,ingat kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya.

  • Josh

    I miss you Yohana. Semoga engkau diterima bapa disurga kakak ku sayang. Kami Akan selalu mengingat engkau di sini

FEATURE

DBL Indonesia North Sumatera Series
PLN Bottom Bar