Seluruh Maskapai Lewat Kualanamu

Polonia Tutup 25 Juli

MEDAN- Per tanggal 25 Juli mendatang, Bandar Udara (Bandara) Polonia resmi ditutup. Seluruh maskapai penerbangan akan terbang dan mendarat melalui Bandara Internasional Kualanamu.

Bandara Polonia Medan

Bandara Polonia Medan//Triadi/Sumut Pos


“Soft Operation Kualanamu akan digelar pada 25 Juli. Operasional bayangan ini sama seperti operasional pada umumnya. Tujuannya agar kesempurnaan operasional lebih terjamin. Jadi, begitu ada kekurangan saat soft operation, maka akan di-fix-kan sebelum peresmian. Dalam soft operation ini, semua operasional pindah secara utuh. Dengan kata lain, seluruh maskapai akan terbang dan mendarat melalui Kualanamu. Dan Polonia tutup,” jelas Direktur Angkasa Pura II, Tri Susnoko, dalam Rapat Koordinasi Bersama Sekretariat Wapres RI di Hotel Aryaduta, Kamis (2/5). Untuk grand opening bandara terbesar di Sumatera ini, PT Angkasa Pura II masih menunggu jadwal dari presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia berharap, peresmian dapat dilangsungkan awal September mendatang. “Secara fisik, Kualanamu sudah siap 100 persen. Walaupun ada beberapa hal yang harus kita urus. Seperti izin, maskapai, dan lainnya,” ujarnya.

Karena itu, waktu yang hanya tinggal 3 bulan sebelum soft operation akan digunakan untuk mengurus semua izin. “Saat ini AP II, Otoritas Bandara, dan Kementerian Perhubungan sedang mempersiapkan diri mengurus pemberitahuan kepada ICAO (International Civil Aviation Organization). Karena Bandara Kualanamu ini ‘kan proyek nasional dan internasional. Pemberitahuan kepada ICAO itu agar dapat disebarluaskan ke seluruh negara,” lanjutnya.

Direncanakan, akhir Mei ini surat pernyataan soft operation diserahkan.

Bila ICAO sudah menyebarkan pemberitahuan, maka setiap maskapai yang akan mendarat ke Kualanamu diwajibkan menyamakan koordinatnya dengan Kualanamu. Artinya, pesawat maskapai disetel dengan sistem yang sesuai dengan Kualanamu. “Kenapa harus akhir bulan ini surat tersebut kita serahkan? Karena ICAO membutuhkan waktu minimal 56 hari untuk menyebarkan ke seluruh airlines, bahwa Kulanamu soft operation pada tanggal 25 Juli,” lanjutnya.

Terkait dengan soft opening tersebut, Tri mengakui, pihak maskapai belum menyampaikan kesediaan pindah ke Kualanamu. “Tapi mereka tahu akan segera pindah. Kan masih ada waktu 3 bulan lagi. Pasti mereka bersedia kok. Apalagi dengan keunggulan yang dimiliki oleh Kualanamu,” paparnya.

Kepala Project Implementation Unit (PIU) Kualanamu Joko Waskito mengatakan, berbagai persiapan soft opening adalah sentuhan akhir. Mulai dari bangunan, landasan pacu atau runway, taxiway, Instrument Landing System (ILS), terminal barang atau cargo dan area pengisi bahan bakar pesawat sudah rampung dikerjakan.

Terkait dengan pemindahan segala aspek dari Polonia ke Kualanamu, Kepala Otoritas Bandara Udara Wilayah II, Abdul Hani menyatakan sudah mulai mengambil ancang-acang. Seperti pemberitahuan kepada maskapai, masyarakat dan lain sebagainya. “Nanti kita akan umumkan ke media, bahwa Polonia sudah tidak beroperasi lagi. Dan diganti ke Kualanamu. Pemberitahuan ini akan dilakukan secara resmi,” ungkapnya.

Kualanamu Tahap II

Walaupun saat ini Kualanamu International Airport belum resmi dibuka meski hanya soft operation, pihak AP II sudah berencana melakukan pengembangan pada bandara yang nantinya menjadi pintu masuk Indonesia Bagian Barat ini.

Saat ini, AP II sedang melangsungkan Studi Pengembangan Lanjut Kualanamu. Hal ini dilakukan untuk menghindari kejadian pada Polonia yang sudah over kapasitas. “Kualanamu saat ini mampu menampung 10 juta penumpang. Tapi kalau saat ini hanya 8 juta berdasarkan data dari Polonia. Kalau kita tidak berfikir sekarang untuk pengembangannya, ditakutkan kejadiannya over kapasitas. Bandara tidak layak, penumpang protes,” ungkapnya.

Untuk tahap II ini, ia memastikan akan ada perluasan bangunan dan penambahan runway (landasan pacu). “Kita prediksi akan terus terjadi peningkatan kegiatan di Kualanamu. Nah, tahap dua ini akan lebih diutamakan pada bangunan dan runway ya. Tapi seperti apa, saya belum bisa jelaskan. Intinya, akan ada tahap II,” lanjutnya.

Seperti diketahui, runway di Kualanamu sangat berbeda dengan Polonia. Runway di sini satu jalur yang akan langsung menghadap ke Selat Malaka (Pantai Cermin). Kalau memang ada kemungkinan untuk penambahan, maka ada kemungkinan ada 2 runway di Kualanamu.

Lahan Masih Bermasalah

Sementara itu, Ketua Pembebasan Lahan dari Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu), Zulkifli Tanjung menyatakan, untuk saat ini Jalan Arteri yang sudah dapat digunakan 96 persen. “Saat ini, masih ada 30 titik yang belum kita selesaikan. Masalahnya bervariasi, mulai dari status lahan HGU, sertifikat yang digadai, hingga belum mencapai kata sepakat terkait harga,” ujarnya.

Adapun tanah tersebut bermasalah di Desa Sena (Batang Kuis), di mana masih ada sekitar 13 titik (persil) yang masih bermasalah dengan luas 4.419,35 m2. “Empat persil karena sertifikatnya sedang digadai ke Bank Mandiri. Dua persil sengketa atas nama Slamet dan Sumarno. Dua persil tidak diketahui pemiliknya, dan kita sedang mencari. Sedangkan 5 persil lagi belum mencapai kata sepakat terkait harga,” ujarnya.

Sengketa lain ada di Desa Batu Bedimar Kecamatan Tanjung Morawa. Di mana, status lahannya adalah eks HGU PTPN 2 yang akan dibebaskan seluas 661 m2 (2 persil) atas nama Yusuf S (Kompol) dan atas nama Ny Isneni. “Mereka bilang itu tanah mereka. Sementara BPN bilang itu tanah eks HGU. Jadi, ini masih dalam proses,” ungkapnya.

Lahan lain yang akan dibebaskan terletak di Desa Sena (Batang Kuis) sebanyak 26 persil (12.025 m2). Masih ada tersisa 20 persil (6.025 m2). “Itu hasil per 30 April kemarin. 20 persil itu saat ini statusnya 4 menunggu hasil BPN, dan 16 menunggu kata sepakat,” ungkapnya.

Ia menyakinkan, masalah tanah ini harus dapat diselesaikan pada akhir Mei ini, agar saat soft operation tidak ada masalah. “Kita terus mengejar hingga akhir Mei. Jadi, saat Juli sudah bisa dioperasikan,” tutupnya.

Adapun Bandara Kualanamu memiliki luas terminal 118.930 meter persegi, mampu menampung hingga 8,1 juta penumpang setiap harinya. Luas apron 200 ribu meter persegi dengan daya tampung sebanyak 33 pesawat. Gudang kargo seluas 13 ribu meter persegi dan area parkir seluas 50.820 meter persegi, yang mampu menampung sebanyak 407 unit taksi bandara, 55 unit bus, dan 908 unit mobil. Kemampuan menampung di bandara ini hampir setara dengan KLCC atau Changi, Singapura.

Akses menuju Bandara Kualanamu didukung oleh pembangunan jalur kereta api dari Stasiun Aras Kabu di Kecamatan Beringin ke bandara yang berjarak sekitar 450 meter. Stasiun Aras Kabu terhubung ke Stasiun Medan dengan jarak 22,96 km. Diperkirakan jarak tempuh dari Medan hingga Kualanamu berkisar antara 16-30 menit. Kemudian, bisa juga melalui transportasi bus yang didukung oleh jalan Tol Medan-Kualanamu sepanjang 17,8 km.

Kepala Seksi Humas Umum PIU Kualanamu Wisnu Budi Setianto mengatakan, penyelesaian Bandara Kualanamu keseluruhan ditargetkan selesai pada Juli mendatang. Sebagian besar telah diproses dengan uji coba, seperti kereta api. “Sedangkan pasokan listrik di Bandara Kualanamu sudah masuk, namun AC saja yang belum. Runway telah terselesaikan April 2012,” papar Wisnu.

Dikatakannya, Kualanamu dan dapat memenuhi 8,1 juta penumpang per tahun dibandingkan Bandara Polonia yang hanya menampung 900 ribu per tahunnya. Pesawat dan terminal untuk penumpang dan pengiriman barang juga dibedakan agar penumpang tidak sulit untuk antri dan berdesakan.

Bagaimana proses lelang yang tengah berjalan saat ini?
Memang, ada beberapa proses lelang yang masih berjalan. Misalnya, PT Railink (kereta api) berencana melelang pengelolaan area komersil di stasiun kereta api Kualanamu. Area tersebut nantinya akan berbentuk kios yang dapat menjual berbagai produk, mulai dari souvenir hingga oleh-oleh.

Direktur Komersil yang juga Humas PT Railink Makmur Syaheran mengatakan, rencana pelelangan area komersil ini hanya beberapa kios saja. Dengan harapan, agar kenyamanan para penumpang tetap terjaga. “Fokus dari stasiun KA di Kualanamu ini kan hanya untuk kenyamanan dan memberikan pelayanan kepada penumpang. Walaupun nantinya kita akan membuka tenant, tetapi tidak boleh sembarangan. Salah satu syarat kita ajukan bagi yang ingin berdagangan adalah makanan dijual harus take away (bawa pulang),” tambahnya.

Selain makanan siap pulang, syarat lain yang diajukan anak perusahaan dari PT KAI dan PT Angkasa Pura II ini bagi penyewa tenant, tidak boleh memiliki kegiatan masak memasak. Faktor keamanan dan asap dari proses masak yang ditimbulkan akan mengganggu penumpang di Stasiun KA Bandara.

Terkait dengan tender ini, Makamur menyatakan sudah ada beberapa pihak menyatakan tertarik menjadi pengelola area komersil di stasiun KA. Bahkan, ada beberapa perusahaan sudah memasukkan penawaran. Selain untuk tetap menjaga kenyamanan penumpang, alasan lain terbatasnya kios di stasiun KA ini nantinya akan disediakan delapan counter tiket bagi maskapai penerbangan di Medan. (ram/ila)

Tagged:

Berita terkait:

FEATURE