Nyaman Besarkan Usaha Rumah Kontrakan

Herry Kiswanto setelah Tak Menjadi Pangeran di Lapangan

Kiprah Herry Kiswanto belum tersaingi. Predikat pangeran minim kartu kuning tetap menjadi miliknya. Bagaimana keseharian dia kini?

PERASAAN Herry Kiswanto turut porak-poranda saat gempa bumi melanda sebagian wilayah Jawa Barat September lalu. Apalagi, Ciamis adalah salah satu daerah yang turut diguncang gempa yang berpusat di Tasikmalaya itu.

“Syukurlah keluarga baik-baik saja meski sebagian rumah roboh,” ujar mantan pemain nasional sepak bola tersebut.
Bagaimana tidak khawatir jika keluarga besarnya tinggal di sana, termasuk kedua orang tuanya, Qomari dan Siti Salamah. Maka, Herkis -sapaan karib Herry Kiswanto- menyempatkan diri untuk menengok dan melihat keadaan di sana. Setelah melihat kondisi bangunan, dia menilai rumah tersebut memang harus diperbaiki. Untuk dia, persoalan itu tak sulit. Meski, saat ini dia tak menangani tim sepak bola satu pun.
“Alhamdulillah, rezeki ada terus,” ujar dia.

Bahkan, saat pelatih-pelatih sepak bola berburu klub, Herkis santai saja. Pria yang sudah lulus ujian lisensi A pelatih tersebut memilih berkonsentrasi mengawasi pembangunan rumah di Bandung.

Itu bukan rumah pertamanya. Rumah utamanya berlokasi di kawasan Cijantung, Jakarta Timur. Di sana, dia tinggal bersama istri, Tuty Heriyati, dan putri bungsu mereka, Tania Nastasya Berlian.

Anak pertama mereka, Dony Prakasa Utama, sudah mentas. Dia tinggal dengan keluarga barunya. Rumah tersebut bukan bonus dari pemerintah karena pernah menyumbangkan medali emas multieven, melainkan dibangun dengan uang kontrak sebagai pemain dan pelatih. Begitu pula tanah di kawasan yang tak jauh dari rumah utama. Selain itu, masih ada sekompleks rumah petak yang dikontrakkan kepada orang lain. Di Bandung, Herkis juga punya dua bangunan rumah. “Awalnya, bingung mau membangun rumah di mana, Bandung atau Jakarta. Tapi, akhirnya bisa dapat dua-duanya,” ungkap pria kelahiran Banda Aceh, 25 April 1957, tersebut.

Herkis memang tak mendapat rumah dari pemerintah, berbeda dengan pemain timnas 1987. Entah kenapa, kunci rumah tak diberikan kepadanya sampai saat ini. “Selama menjadi istri bapak, saya tak pernah merasa kekurangan ekonomi,” ujar Tuty.

“Meski, saya tak pernah memaksa dia agar pandai-pandai mengatur keuangan,” imbuh wanita berjilbab itu.
Buktinya, pendidikan kedua anaknya bisa rampung dengan lancar. Serangkaian usaha kontrakan rumah juga berkembang. Tak ada alasan khusus kenapa usaha itu dipilih pasangan tersebut, bukan menanamkan uang di usaha pialang atau lainnya. “Menurut saya, investasi tanah masih paling menjanjikan. Kalau ada rezeki, saya menggunakannya untuk membeli tanah,” jelas Herkis. Ya, sepak bola memang merupakan bagian hidup pria yang kerap didapuk menjadi kapten timnas itu. Namun kini, setelah lebih dari satu dasawarsa, peraih sepatu emas 1986 tersebut tak lagi berpredikat pemain. Sepak bola tak lagi menjadi satu-satunya aliran rupiah untuk keluarga. Pernah menjadi karyawan Bank Rakyat Indonesia (BRI) rupanya menjadi bekal yang sangat berharga. Herkis amat pandai mengatur keuangan.

“Setiap mendapat uang kontrak untuk main atau melatih, saya selalu menyerahkannya kepada istri agar dikelola,” papar dia.
Maklum, jika bergantung uang pensiunan sebagai peraih medali emas SEA Games 1987 dari PSSI, besaran rupiahnya sudah tak bisa diandalkan. “Awalnya Rp 75 ribu, baru-baru ini naik, Rp 100 ribu per bulan,” ujar ujar Herkis lantas tertawa.
Selain mengontrol sejumlah kontrakan yang dimiliki, Herkis mulai berkebun. Berbeda dengan kontrakan itu, usaha kebun tak dijadikan sebagai media untuk menambah isi kantong.  “Cukup hobi, kok,” ucapnya. (femi diah/diq)

Satu Kartu yang Bikin Menyesal

SELAMA 17 tahun, Herry Kiswanto menekuni sepak bola.Di lapangan dia berposisi sebagai libero. Tugas itu semakin berat karena dia juga sering dipercaya sebagai kapten tim. Istimewanya, selama perjalanan karir dia, hampir tak pernah ternoda oleh kartu kuning apalagi kartu merah.
Herkis -sapaan karib Herry Kiswanto- hanya pernah mendapat sekali kartu kuning. Torehan itu saja sudah membuatnya menyesal. Maklum, saat membela tim nasional yang melibatkan wasit internasional dan permainan keras, dia tak sekali pun diganjar kartu peringatan.
Dia terkena kartu kuning saat membela klub di era Galatama. Saat itu dia membela Kramayudha Tiga Berlian yang ditantang Pelita Jaya di Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

“Saya sudah berusaha untuk tak akan pernah mendapatkan kartu kuning, tapi kok ya pada waktu itu dapat juga. Saya sesali kejadian itu,” ungkap penyuka warna merah dan putih tersebut. Apalagi, kartu itu dituainya bukan karena pelanggaran langsung. Tapi, Herkis, yang menjadi kapten, protes keras kepada wasit karena memberikan keputusan cukup kontroversial bagi timnya. Wasit kurang yakin saat memutuskan gol lawan karena asisten wasit tak meniup peluit tanda terjadinya gol.

Nah, saat meminta keterangan, bukannya memberikan penjelasan, wasit malah ngomel tidak jelas. Herkis pun emosi dan terus memberikan klarifikasi kepada wasit. Bukannya mendapatkan penjelasan, wasit malah memberinya kartu kuning.

“Saat ini memang kondisinya berbeda. Saya dulu hanya berpikir bagaimana fokus bermain. Kalau ada pemain yang bandel, saya harus bisa mengontrol dia,” tutur Herkis menyangkut kunci ketenangannya di lapangan.

Tak hanya di dalam lapangan. Herkis juga merupakan pribadi yang cukup tenang di luar lapangan. ‘’Papa itu lucu. Beliau tak pernah marah,” ujar Tania, anak keduanya.

Tuty, istri yang dinikahi Herkis pada 25 Desember 1980, juga memiliki penilaian serupa. Maka, sebagai istri, dia pun menyesuaikan dengan keluasan kesabaran Herkis. ‘’Kami sudah sering kecewa dengan beberapa pihak.Tapi, papa memilih untuk bersabar dan tak membuat persoalan itu menjadi perkara,” ujar Tuty.

Dia mencontohkan hadiah rumah yang diberikan PSSI sebagai apresiasi emas SEA Games 1987. Rumah itu tak pernah menjadi milik kedua pasangan tersebut. Kejadian lain, rumah Herkis kerap menjadi sasaran masyarakat jika timnas menuai kekalahan dari lawan.

Segala bentuk sampah tahu-tahu mampir ke teras rumah mereka. Kadang kalau sampai emosional pun, Tuty memilih menyimpannya sendiri.
Bahkan, Tuty pernah keguguran dua kali karena perilaku para penggemar timnas. ‘’Alhamdulliah, sekarang kami sudah bisa hidup normal,” ujar Tuty.

Hanya, memang kadang-kadang para tetangga sering datang ke rumahnya untuk menyatakan kekecewaan atas hasil timnas saat ini. (vem/diq)

Berharap Cucu yang Ikuti Jejaknya

BUAH jatuh tak jauh dari pohon.Pepatah itu tak berlaku bagi Herry Kiswanto. Namanya begitu melegenda sebagai pemain yang cukup lama berkostum tim nasional. Tercatat, enam kali SEA Games pria kelahiran Ciamis, Jawa Barat, itu memperkuat tim Merah Putih.
Namun, tak satu pun anaknya yang menjadi pemain sepak bola. Padahal, dia tak segan melibatkan dua anaknya ke lapangan saat melatih.
Dony Prakasa Utama, anak sulungnya, memang pernah bergabung dengan salah satu sekolah sepak bola (SSB), namun pada perkembangannya malah lebih berkonsentrasi ke basket dan musik.

“Eh, kemudian dia malah memilih ke pendidikan dan tidak mau ke sepak bola,” ucap Herkis -sapaan Herry Kiswanto. Kini Dony malah sudah lebih berkonsentrasi pada profesinya di bidang keuangan. Tania Nastasya Berlian, adik Dony, pernah magang sebagai presenter olahraga di AnTV.
Namun, lulusan London Public School itu sudah tak ingin melanjutkan. “Sepertinya, saya lebih cocok kerja sebagai administrasi di kantor,” ujar Tania.

Sekarang dia sedang berusaha untuk lulus saringan di Pertamina. Padahal, dari nama dua buah hatinya itu, Herkis dan istrinya, Tuty, tetap menyematkan aroma si bola bundar.

Nama belakang putra pertama dilabeli “Utama” yang menunjukkan kala itu Herkis sedang berlaga di kompetisi utama sepak bola nasional. Nah, Tania juga demikian.  Nama belakangnya Berlian karena waktu dia lahir 21 tahun lalu, Herkis sedang memperkuat Kramayuda Tiga Berlian.
Namun, harapannya tak pupus begitu saja. Tentu tak bisa lagi dia mengharap dari dua anaknya langsung. “Semoga ada salah satu cucu yang mengikuti jejak saya. Siapa saja nanti, dia akan saya latih sendiri,” tukas pria yang juga akrab disapa Akang itu.

Sejak berprofesi sebagai pemain dan pelatih, Herkis justru lebih sering berada di asrama klub atau tim nasional (timnas).
Satu pengalaman yang tak bakal dilupakan Tuty adalah saat keduanya mau menikah 25 Desember 1980.  Herkis masih sibuk bermain sepak bola di Medan.  Barulah tiga hari menjelang hari H, dia pulang ke Bandung, tempat tinggal Tuty.

Begitu pula pasca pesta pernikahan. Tiga harus setelahnya Herkis langsung terbang ke Medan.  “Pokoknya seperti pernikahan koboi saja, serampangan persiapannya,” ungkap Tuty.

Saking seringnya meninggalkan rumah, Tania, anak kedua Herry sampai pangling.  “Malah sempat saya memanggil dia Om,” ujar Tania.
Nah, agar urusan perut tak memicu ketegangan, Tuty punya resep sendiri.  Menurut Tuty, Herkis termasuk suami yang tak pernah rewel  soal makanan.  (vem/diq)

Memilih Setia Tidak Merokok
KESEHATAN dan kebugaran badan menjadi modal utama atlet. Herry Kiswanto meyakini hal itu. Hasilnya, dia cukup lama berpredikat menjadi pemain, sejak 1979 sampai 1996. Herkis -sapaan Herry Kiswanto- juga awet tinggal di tim nasional (timnas) (1979-1993).
Bahkan, dia masih dipertahankan dalam enam kali SEA Games. “Nyatanya, saya masih laku sampai berusia 40 tahun kan,” ujarnya bangga.
Dia menuturkan pernah bersahabat dengan rokok saat menjadi mahasiswa Akademi Industri dan Niaga Bandung pada 1976. Saat itu, dia juga bekerja di Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Ketika senggang, Herkis ikut berlatih dengan Persib Bandung. Eh, di tengah jalan, dia justru semakin menekuni sepak bola daripada dua kesibukan lain. Larangan keluarga tak digubris.

Keyakinan bisa sukses di sepak bola itu menjadi modal. “Dari sana, saya mulai menyadari bahwa fisik harus selalu prima. Makanya, saya memaksa diri saya untuk berhenti merokok,” tegas pria penyuka masakan nusantara itu.

Sampai saat ini, pada usia 52 tahun, Herkis tetap setia tak merokok. “Lebih enak berkebun di depan rumah sana,” ucap suami Tuty Heriyati tersebut. Dia menanam kacang tanah dan singkong. Biasanya, hasilnya dinikmati oleh petugas ronda di lingkungannya. “Bertanam sekadar hiburan,” tutur dia.

Olahraga juga masih menjadi hobi utama mantan libero terbaik itu. Pilihannya adalah renang dan tenis. “Tapi, bukan berarti saya melupakan cara memainkan bola lho,” kelakarnya. (vem/diq)

BIODATA

Nama     : Herry Kiswanto
Lahir     : Kuta Alam, Banda Aceh, 25 April 1955
Istri     : Tuty Heriyati, 50

Anak     :
- Dony Prakasa Utama, 26
- Tania Nastasya Berlian, 21

Orang tua    : Qomari/Siti Salamah
Anak pertama di antara tiga bersaudara
- Herryana Kusumawati, 46
- Tony Hidayat, 37

Pendidikan:
- SDN 1 Ciamis
- SMP N 2 Ciamis
- SMEA N 2 Ciamis
- Universitas Akademi Industri dan Niaga Bandung

Karir Pemain:
- 1979-1983: Pardedetex Medan
- 1983-1985: Yanita Utama
- 1985-1991: Kramayudha Tiga Berlian
- 1991-1993: Assyabaab Surabaya
- 1993-1996: Bandung Raya

Prestasi:
- Emas SEA Games 1987 di Jakarta
- Perak SEA Games 1983
- Perunggu SEA Games 1981, 1989
- Perunggu PON 1989 (DKI Jakarta)
- Perunggu Piala AFF 1984/1985
- Juara Sultan Hasanah Bolkiah 1986
- Runner-up Piala Kemerdekaan 1994
- Peringkat III Asian Club Championship Arab 1986

Karir Pelatih:
- 1997-2000: Asisten pelatih Tim Nasional
- 2000-2001: Pelatih PSBL Lampung
- 2002-2004: Asisten pelatih Persija Jakarta
- 2004-2005: Pelatih PSIS Semarang
- 2005-2006: Pelatih Persikabo Kab Bogor
- 2006-2007: Pelatih Persmin Minahasa, Pelatih Persiraja Banda Aceh
- 2007-2008 Pelatih Persikab Kab Bandung

Penghargaan:
- Penghargaan kelas III dari Menpora 1987
- Lencana perak dari PSSI 1989 (25 tahun lebih membela Timnas)
- Pemain terbaik kedua 1982-1983
- Sepatu emas 1986
- Pemain terbaik 1985

This entry was posted in Berita Foto, Top Figure. Bookmark the permalink.

One Response to Nyaman Besarkan Usaha Rumah Kontrakan

  1. makasih informasinya.ini benar” peluang bisnis yang sudah didepan mata